Tamparan yang Bijak Sana

Ada seorang pemuda yang lama belajar di luar negeri kembali ke tanahair dengan angkuh dan sombong. Di dalam benak kepalanya telah lama tersimpan 3 pertanyaan yang dianggapnya tiada siapa yang boleh menjawab. Satu hari beliau bertemu seorang imam tua di kampungnya.
Pemuda : Pak imam apakah boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Pak Imam : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan kamu!
Pemuda : Pak imam yakin? Profesor dan banyak orang pintar yang saya tanya tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Pak Imam : Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya, insya’Allah.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan
1. Kalau benar Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya?
2. Apakah yang dinamakan TAKDIR?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, kenapa mereka dimasukkan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Dengan sepontan Pak Imam tersebut menampar pipi si Pemuda itu dengan amat kuat.
Pemuda (sambil menahan sakit) : Kenapa pak imam marah kepada saya?
Pak Imam : Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya untuk 3 pertanyaan yang awak tanyakan kepada saya.
Pemuda : Saya amat tidak faham…??
Pak Imam : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit dan pedih…!!
Pak Imam : Jadi kamu percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda : Ya….!
Pak Imam : Tunjukan pada saya ujudnya sakit itu atau macam mana rupanya?
Pemuda : Tak bisa pak imam…!!!
Pak Imam : Itulah jawapan kepada pertanyaan pertama kamu, kita semua merasakan kewujudan Tuhan itu tanpa mampu melihat kewujudanNya.
Pak Imam : Adakah malam tadi kamu bermimpi atau telah tahu saya akan menampar kamu? Pemuda : Tidak….!!?
Pak Imam : Apakah kamu pernah terfikir akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak….!!!?
Pak Imam : Itulah yang dinamakan TAKDIR!
Pak Imam : Terbuat dari apakah tangan yang saya gunakan untuk menampar kamu ini?
Pemuda : Kulit dan daging…!!!
Pak Imam : Terbuat dari apakah pipi kamu itu…?
Pemuda : Kulit dan daging….!!!??
Pak Imam : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit dan pedih….!!!?
Pak Imam : Itulah…! Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan jadilah ia tempat yang menyakitkan untuk syaitan…. walaupun sama unsur asalnya…!!

Comments
60 Responses to “Tamparan yang Bijak Sana”
  1. Good job pak Imam…

  2. rawins says:

    kan nek adohnek cedek bijaksini…

  3. anotherorion says:

    rawins said: kan nek adohnek cedek bijaksini…

    rika umaeh ngendi jarene nang sukonandi yah??nyong mbiyen SMAne nang Muha

  4. elysiarizqy says:

    pelajaran yang bijak dan mengena, matur nuwun kang

  5. radixwp says:

    Sakit itu reaksi dari impuls syaraf makhluk hidup. Tdk mustahil bhw manusia nantinya akan bisa melihat bagaimana “wujud” rasa sakit itu.Penamparan itu bukanlah takdir, krn Pak Imam punya pilihan utk menampar atau tdk.Sekadar referensi logis sih πŸ™‚

  6. kehedz says:

    dan mr radix di takdirkan u/ mereferensikan secara logis o/ tuhan.Itulah salah satu Kuasanya Tuhan πŸ™‚

  7. ihinclp says:

    bagus….biar kapok gak tanya tanya mulu

  8. elysiarizqy says:

    ihinclp said: bagus….biar kapok gak tanya tanya mulu

    biasane kang rawin kuweh

  9. anotherorion says:

    radixwp said: Sakit itu reaksi dari impuls syaraf makhluk hidup. Tdk mustahil bhw manusia nantinya akan bisa melihat bagaimana “wujud” rasa sakit itu.Penamparan itu bukanlah takdir, krn Pak Imam punya pilihan utk menampar atau tdk.Sekadar referensi logis sih πŸ™‚

    disebut takdir karena pemuda itu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, tamparan pak Imam itu jadi takdirnya pemuda gitu loh, nek di pak Imame sih terserah dia mo nampar enggak,

  10. radixwp says:

    ihinclp said: bagus….biar kapok gak tanya tanya mulu

    Mempertanyakan itu salah ya? Lantas, apa gunanya akal yg tlh dianugerahkan oleh Tuhan ini?

  11. radixwp says:

    anotherorion said: disebut takdir karena pemuda itu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, tamparan pak Imam itu jadi takdirnya pemuda gitu loh, nek di pak Imame sih terserah dia mo nampar enggak,

    Ini sih spt takdirnya korban kejahatan. Dlm hal ini, Pak Imam penjahatnya.

  12. anotherorion says:

    radixwp said: Mempertanyakan itu salah ya? Lantas, apa gunanya akal yg tlh dianugerahkan oleh Tuhan ini?

    oh engga silahkan bertanya apa saja….AlQur’an selalu menganjurkan umat Islam untuk berfikir kok, dalam kasus ini tamparan pak Imam bukan karena marah dengan pertanyaan tersebut justru ada konsekuensi logis dari tamparan pak Imam…Pemuda itu merasa sakitnya tamparan adalah hal yang logis, namun setidaknya dia telah mendapatkan apa yang disebut konsekuensi logis dari apa yang belum dia mengerti….Ada yang mau saya tampar jugak???

  13. radixwp says:

    anotherorion said: oh engga silahkan bertanya apa saja….AlQur’an selalu menganjurkan umat Islam untuk berfikir kok, dalam kasus ini tamparan pak Imam bukan karena marah dengan pertanyaan tersebut justru ada konsekuensi logis dari tamparan pak Imam…Pemuda itu merasa sakitnya tamparan adalah hal yang logis, namun setidaknya dia telah mendapatkan apa yang disebut konsekuensi logis dari apa yang belum dia mengerti….Ada yang mau saya tampar jugak???

    Tapi siapa yg menjamin bhw dlm hati Pak Imam tdk ada motif represif sbgmana yg disampaikan oleh sdr ihinclp…

  14. anotherorion says:

    radixwp said: Tapi siapa yg menjamin bhw dlm hati Pak Imam tdk ada motif represif sbgmana yg disampaikan oleh sdr ihinclp…

    hehehe tindakan penamparan itu hanya untuk menggambarkan kepada pemuda supaya lebih mudah memahami, bukan jenis tindakan represif, kecuali jika pak Imam memukulnya berulangkali. satu tamparan itu sudah cukup jelas untuk menjawab 3 pokok pertanyaan sekaligus

  15. radixwp says:

    anotherorion said: hehehe tindakan penamparan itu hanya untuk menggambarkan kepada pemuda supaya lebih mudah memahami, bukan jenis tindakan represif, kecuali jika pak Imam memukulnya berulangkali. satu tamparan itu sudah cukup jelas untuk menjawab 3 pokok pertanyaan sekaligus

    Menampar satu kali pun bisa saja merupakan suatu represi. Lagipula, kenapa sih hrs dg kekerasan segala? Barbar sekali.Jk saya jadi si pemuda, Pak Imam saya laporkan ke polisi, utk dijerat pasal penganiayaan ringan (bisa ditambah tuntutan perdata juga).

  16. anotherorion says:

    radixwp said: Menampar satu kali pun bisa saja merupakan suatu represi. Lagipula, kenapa sih hrs dg kekerasan segala? Barbar sekali.Jk saya jadi si pemuda, Pak Imam saya laporkan ke polisi, utk dijerat pasal penganiayaan ringan (bisa ditambah tuntutan perdata juga).

    mengikuti jejak wartawan gosip dan infotainment??yang hanya jika terinjak kakinya oleh artis sudah cukup untuk mengadakan jumpa pers dan mengadukan tindakan si artis ke polisi gitu?

  17. radixwp says:

    anotherorion said: mengikuti jejak wartawan gosip dan infotainment??yang hanya jika terinjak kakinya oleh artis sudah cukup untuk mengadakan jumpa pers dan mengadukan tindakan si artis ke polisi gitu?

    Hah, berbeda dong. Kaki terinjak itu kan ketdksengajaan. Berbeda dg penamparan oleh Pak Imam tadi, yg jelas2 disengaja. Pelaporan ke polisi juga bagi pelajaran bagus utk Pak Imam agar lain kali menghindari cara2 kekerasan.

  18. anotherorion says:

    radixwp said: Hah, berbeda dong. Kaki terinjak itu kan ketdksengajaan. Berbeda dg penamparan oleh Pak Imam tadi, yg jelas2 disengaja. Pelaporan ke polisi juga bagi pelajaran bagus utk Pak Imam agar lain kali menghindari cara2 kekerasan.

    klo gitu kita bandingkan lagi deh, anak kecil maen2 ke tengah jalan, sama bapaknya ditarik masuk rumah, dianya gak mau teriak2 sama bapaknya dipukul, trus wajar gak anak itu lapor sama polisi bapaknya udah melakukan kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur?mungkin anda tertarik untuk ngikut jadi lawyer dalam kasus semacam ini??

  19. radixwp says:

    anotherorion said: klo gitu kita bandingkan lagi deh, anak kecil maen2 ke tengah jalan, sama bapaknya ditarik masuk rumah, dianya gak mau teriak2 sama bapaknya dipukul, trus wajar gak anak itu lapor sama polisi bapaknya udah melakukan kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur?mungkin anda tertarik untuk ngikut jadi lawyer dalam kasus semacam ini??

    Analogi yg anda sampaikan lagi2 tdk relevan. Coba baca lagi artikel pembuka di atas. Si pemuda jelas2 bertanya, tapi malah dibalas dg penganiayaan (berdasarkan klausul KUHP).Dlm perspektif hukum, pengaduan si pemuda tadi jelas2 layak diproses oleh kepolisian.

  20. anotherorion says:

    radixwp said: Analogi yg anda sampaikan lagi2 tdk relevan. Coba baca lagi artikel pembuka di atas. Si pemuda jelas2 bertanya, tapi malah dibalas dg penganiayaan (berdasarkan klausul KUHP).Dlm perspektif hukum, pengaduan si pemuda tadi jelas2 layak diproses oleh kepolisian.

    oh ya? bukankah kelakuan bapak menampar anak juga bentuk kekerasan? juga bentuk KDRT dan kekerasan pada anak di bawah umur?kenapa bapak tersebut tidak dilaporkan saja pada Polisi?

  21. radixwp says:

    anotherorion said: oh ya? bukankah kelakuan bapak menampar anak juga bentuk kekerasan? juga bentuk KDRT dan kekerasan pada anak di bawah umur?kenapa bapak tersebut tidak dilaporkan saja pada Polisi?

    Dlm Deklarasi Universal HAM 1948–yg sdh diratifikasi oleh Indonesia–pendidikan merupakan wewenang org tua. Krn itu, org tua berhak melakukan pendidikan, meski disertai kekerasan kpd anak2nya (kadar kekerasannya ditentukan oleh pengadilan).Jadi, konteksnya berbeda dg penganiayaan yg dilakukan oleh Pak Imam, yg bukan org tua si pemuda.

  22. anotherorion says:

    sama konteksnya dengan pak imam dimana dia memberikan jenis pendidikan untuk si pemuda, dalam permasalahan diatas kan pemuda sedang mencari ilmu, bertanya pada pak imam dan tamparan yang didapatkan adalah konsekuensi dari pencarian keilmuan baginya, namun tamparan ini bukan ungkapan pendisiplinan diri bagi pemuda dari tindakan indisipliner pemuda melainkan tamparan ini mengandung muatan keilmuan.jangan lupa ketika jaman kita masih SD guru yang memberikan hukuman fisik pada murid masih banyak dan kita sebagai siswa masih bisa memaklumi, jenis kekerasan yang dilakukan guru2 jaman dulu bukan sebagai implementasi pelampiasan kemarahan dan tidak menimbulkan luka permanen hanya sebatas peringatan yang ‘lebih dapat dirasakan’ daripada sekedar himbauan lisan. Beda dengan orangtua2 jaman sekarang jika kita melihat kasus adik2 kita di SD yang digampar guru sampai memar dan membuat orang tua melaporkan tindak penganiayaan, sebenarnya saya yakin terjadinya penggamparan tersebut tidak mutlak keinginan guru melakukan kekerasan tapi bisa karena tingkah si anak maupun beberapa influence faktor lingkungan dan permasalahan yang membuat melemahnya kontrol psikologis guru pada saat bersamaan. Bisa saja si guru memang berlebihan namun dalam konteks pendidikan sekolah kita, orangtua menyerahkan anaknya untuk dididik dan dibina oleh sekolah, semua yang terjadi di jam sekolah di lingkungan sekolah adalah wewenang dan tugas dari sekolah, ketika si anak di lingkungan masyarakat banyak berbuat keresahan, membolos dll, lebih banyak dari kita saling mengkritik bukan saling menyadari keteledoran kita, yang sekolah menyalahkan perhatian orangtua yang orang tua menyalahkan didikan sekolah, tapi begitu tindakan disipliner diterapkan sekolah dalam bentuk fisik orangtua serta merta menganggap pelanggaran HAM, seharusnya sebagai orang tua kita harus berpikir jernih melihat permasalahan ini, bukan hanya membebankan semua kesalahan pada pendidik, tapi kita juga harus melihat dari perspektif lain apakah memang anak memiliki kesalahan jangan hanya melihat dari sudut yang selalu merasa dirugikan/dianiaya

  23. radixwp says:

    Nah, akhirnya kita fokus ke pokok masalah, yaitu kekerasan.Seandainya saya org tua & anak saya dianiaya oleh guru, saya akan melaporkan ke polisi, meski pihak sekolah berdalih itu demi pendidikan. Itu saya lakukan bukan krn sakit hati atau semacamnya. Saya hanya tdk mau anak saya diajari doktrin “kekerasan adlh solusi”.Kekerasan itu kebiasaan manusia purba yg sdh selayaknya ditinggalkan oleh manusia beradab. Jk seorg anak diajari kekerasan agar patuh, hasilnya di masa depan ia akan cenderung menggunakan kekerasan utk memaksa org lain tunduk kpd kemauannya. Atau dg kata lain: barbar.Di Mesir, org2 yg tdk suka dg perbedaan pemikiran tlh melakukan kekerasan yg menyebabkan kematian Farag Fouda. Di Indonesia, para preman berjubah di Monas scr massal menganiaya para pendemo yg punya prinsip hidup berbeda dg mereka.Anda ini sangat toleran thd kekerasan ya.

  24. radixwp says:

    Oh, ada perkecualian. Seandainya saya punya anak & ia sampai melakukan kekerasan thd pihak lain dg alasan apapun, saya sendiri yg akan menghajarnya. Itu akan mengajarkan kpdnya bhw jk tdk suka dipukul org lain, jangan memukul org lain.

  25. anotherorion says:

    radixwp said: Nah, akhirnya kita fokus ke pokok masalah, yaitu kekerasan.Seandainya saya org tua & anak saya dianiaya oleh guru, saya akan melaporkan ke polisi, meski pihak sekolah berdalih itu demi pendidikan. Itu saya lakukan bukan krn sakit hati atau semacamnya. Saya hanya tdk mau anak saya diajari doktrin “kekerasan adlh solusi”.Kekerasan itu kebiasaan manusia purba yg sdh selayaknya ditinggalkan oleh manusia beradab. Jk seorg anak diajari kekerasan agar patuh, hasilnya di masa depan ia akan cenderung menggunakan kekerasan utk memaksa org lain tunduk kpd kemauannya. Atau dg kata lain: barbar.Di Mesir, org2 yg tdk suka dg perbedaan pemikiran tlh melakukan kekerasan yg menyebabkan kematian Farag Fouda. Di Indonesia, para preman berjubah di Monas scr massal menganiaya para pendemo yg punya prinsip hidup berbeda dg mereka.Anda ini sangat toleran thd kekerasan ya.

    kekerasan bisa dilakukan dengan berbagai macam alasan dan beberapa jenis tindak yang anda sebut sebagai kekerasan bisa dibenarkan dalam beberapa kasus, sanksi bisa dijatuhkan pada seseorang yang melanggar dalam berbagai jenis ada teguran, ada pencopotan jabatan, ada penjara, ada denda, dan beberapa contoh yang lain, salah satunya adalah bentuk perlakuan fisik, manusia memiliki emosi dan kekerasan fisik yang terjadi adalah bentuk dari terpancingnya emosi, jika tidak ingin dipukul janganlah berbuat hal konyol yang menyinggung orang lain, misalkan anda di bis dengan pasangan anda, lalu ada 3 orang laki2 yang mencolak colek pasangan anda, wajar engga jika anda marah? lalu jika kemarahan anda diabaikan apa yang akan anda lakukan???sebagai seorang pengecut tentu anda akan diam saja, sebagai orang bertanggung jawab anda akan melindungi pasangan anda, mungkin anda berfikir untuk meminta bantuan masyarakat/polisi, jika tidak ada yang berani menolong pasangan anda lalu apa yang anda lakukan?membiarkan pasangan anda jadi objek eksploitasi oleh preman2 itu atau anda akan melakukan tindakan represif untuk mengusir mereka. Opsi untuk menghindari hal tersebut memang banyak tapi seandainya anda cuma memiliki 2 pilihan yaitu menentang atau membiarkan hal itu apa yang akan anda lakukan??

  26. anotherorion says:

    radixwp said: Oh, ada perkecualian. Seandainya saya punya anak & ia sampai melakukan kekerasan thd pihak lain dg alasan apapun, saya sendiri yg akan menghajarnya. Itu akan mengajarkan kpdnya bhw jk tdk suka dipukul org lain, jangan memukul org lain.

    jadi anda melihat ada proses pembelajaran dalam “penghajaran anak oleh sang bapak” bagi anak anda???anda mungkin hanya ingin memberi pengertian yang real bahwa dipukul itu sakit maka jangan memukul, dengan begitu anak anda dapat ilmu baru, begitu juga pak imam kekerasan yang ditunjukkan adalah bentuk pembelajaran yang sama dengan yang akan anda ajarkan pada anak anda, kenapa anda memilih untuk menghajar anak anda sendiri bukankah ada opsi untuk menjelaskan dengan panjang lebar bahwa dipukul itu sakit???Dalam metodologi pembelajaran ini dapat disebut sebagai metode pembelajaran eksperimen dimana siswa diberi kesempatan untuk merasakan sendiri dan menerjemahkan makna dari proses tersebut, dalam kasus anak anda, anak anda akan memiliki pemahaman yang lebih sempurna tentang “bagaimana rasanya dipukul” jauh lebih baik daripada anda menjelaskannya dengan kata2, dalam kasus pak imam dia memberitahu pemuda bagaimana korelasi setan yang dimasukkan ke neraka sedangkan setan diciptakan dari api itu tetap sakit seperti sakitnya “pipi pemuda kena tampar pak imam”yang sama2 berasal dari tanah/daging

  27. radixwp says:

    anotherorion said: kekerasan bisa dilakukan dengan berbagai macam alasan dan beberapa jenis tindak yang anda sebut sebagai kekerasan bisa dibenarkan dalam beberapa kasus, sanksi bisa dijatuhkan pada seseorang yang melanggar dalam berbagai jenis ada teguran, ada pencopotan jabatan, ada penjara, ada denda, dan beberapa contoh yang lain, salah satunya adalah bentuk perlakuan fisik, manusia memiliki emosi dan kekerasan fisik yang terjadi adalah bentuk dari terpancingnya emosi, jika tidak ingin dipukul janganlah berbuat hal konyol yang menyinggung orang lain, misalkan anda di bis dengan pasangan anda, lalu ada 3 orang laki2 yang mencolak colek pasangan anda, wajar engga jika anda marah? lalu jika kemarahan anda diabaikan apa yang akan anda lakukan???sebagai seorang pengecut tentu anda akan diam saja, sebagai orang bertanggung jawab anda akan melindungi pasangan anda, mungkin anda berfikir untuk meminta bantuan masyarakat/polisi, jika tidak ada yang berani menolong pasangan anda lalu apa yang anda lakukan?membiarkan pasangan anda jadi objek eksploitasi oleh preman2 itu atau anda akan melakukan tindakan represif untuk mengusir mereka. Opsi untuk menghindari hal tersebut memang banyak tapi seandainya anda cuma memiliki 2 pilihan yaitu menentang atau membiarkan hal itu apa yang akan anda lakukan??

    Dlm konsep hukum di Indonesia (& di semua negara beradab lain), kekerasan hanya boleh dilakukan utk menghadapi kekerasan atau ancaman kekerasan.Jk saya jadi org dlm contoh anda, saya akan ajak pasangan menjauh lalu lapor polisi (demi supremasi hukum). Jk saya langsung memukul org yg mencolek, saya justru bisa kena pasal penganiayaan. Tapi, jk si pencolek saya peringati malah marah lalu hendak melakukan kekerasan, barulah saya punya hak utk menghajarnya.Org yg melakukan kekerasan krn terpancing emosi pasti bisa dikenai sanksi hukum. Coba sendiri saja jk tdk percaya πŸ˜€

  28. radixwp says:

    anotherorion said: jadi anda melihat ada proses pembelajaran dalam “penghajaran anak oleh sang bapak” bagi anak anda???anda mungkin hanya ingin memberi pengertian yang real bahwa dipukul itu sakit maka jangan memukul, dengan begitu anak anda dapat ilmu baru, begitu juga pak imam kekerasan yang ditunjukkan adalah bentuk pembelajaran yang sama dengan yang akan anda ajarkan pada anak anda, kenapa anda memilih untuk menghajar anak anda sendiri bukankah ada opsi untuk menjelaskan dengan panjang lebar bahwa dipukul itu sakit???Dalam metodologi pembelajaran ini dapat disebut sebagai metode pembelajaran eksperimen dimana siswa diberi kesempatan untuk merasakan sendiri dan menerjemahkan makna dari proses tersebut, dalam kasus anak anda, anak anda akan memiliki pemahaman yang lebih sempurna tentang “bagaimana rasanya dipukul” jauh lebih baik daripada anda menjelaskannya dengan kata2, dalam kasus pak imam dia memberitahu pemuda bagaimana korelasi setan yang dimasukkan ke neraka sedangkan setan diciptakan dari api itu tetap sakit seperti sakitnya “pipi pemuda kena tampar pak imam”yang sama2 berasal dari tanah/daging

    Si pemuda tadi kan sama sekali tdk melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan. Jadi, saya sekali tdk ada alasan ia layak ditampar.Penggunaan kekerasan krn hal2 di luar adanya ancaman kekerasan dari pihak lain merupakan perilaku barbar yg layak mendpt sanksi.Anda ini toleran sekali ya thd praktik kekerasan. Pantas agama anda sering diidentikkan sbg “agama kekerasan” (meski saya tdk sepenuhnya setuju dg anggapan tsb).

  29. anotherorion says:

    radixwp said: Dlm konsep hukum di Indonesia (& di semua negara beradab lain), kekerasan hanya boleh dilakukan utk menghadapi kekerasan atau ancaman kekerasan.Jk saya jadi org dlm contoh anda, saya akan ajak pasangan menjauh lalu lapor polisi (demi supremasi hukum). Jk saya langsung memukul org yg mencolek, saya justru bisa kena pasal penganiayaan. Tapi, jk si pencolek saya peringati malah marah lalu hendak melakukan kekerasan, barulah saya punya hak utk menghajarnya.Org yg melakukan kekerasan krn terpancing emosi pasti bisa dikenai sanksi hukum. Coba sendiri saja jk tdk percaya πŸ˜€

    yah tentu jika anda berhasil mengajak pasangan anda menjauh, jika tidak lalu gimana?membiarkan proses pencabulan terjadi?teriak2 minta tolong? nah dalam kasus pencolek diperingati marah anda berhak menghajar apakah anda cukup berani untuk menggunakan hak tersebut??

  30. anotherorion says:

    radixwp said: Si pemuda tadi kan sama sekali tdk melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan. Jadi, saya sekali tdk ada alasan ia layak ditampar.Penggunaan kekerasan krn hal2 di luar adanya ancaman kekerasan dari pihak lain merupakan perilaku barbar yg layak mendpt sanksi.Anda ini toleran sekali ya thd praktik kekerasan. Pantas agama anda sering diidentikkan sbg “agama kekerasan” (meski saya tdk sepenuhnya setuju dg anggapan tsb).

    nah memang si pemuda tidak memberikan kekerasan fisik sebelumnya, dan bentuk kekerasan yang didapatkan pun bukan pelampiasan kemarahan atau bentuk hukuman melainkan bentuk media pembelajaran.Memangnya ada aturan hukum di negara mana sih dimana ada hukum yang menganjurkan membalas kekerasan dengan kekerasan? kalo orang dipukul satu kali berhak balas memukul? semua menolak pembalasan kekerasan dengan kekerasan serupa, dalam kasus anak anda sekalipun anda bukan seseorang yang mendapat “rasa sakit” dari kekerasan anak anda, kenapa anda merasa berhak menghajar anak anda?memangnya anda merasakan bogem mentah anak anda sampai anda pun layak memberinya bogem mentah?

  31. radixwp says:

    anotherorion said: yah tentu jika anda berhasil mengajak pasangan anda menjauh, jika tidak lalu gimana?membiarkan proses pencabulan terjadi?teriak2 minta tolong? nah dalam kasus pencolek diperingati marah anda berhak menghajar apakah anda cukup berani untuk menggunakan hak tersebut??

    Jk si pencolek marah, saya tetap tdk punya hak menghajarnya. Tapi, jk ia hendak melakukan kekerasan thd saya atau pasangan saya, barulah saya bisa menghajarnya.Dan jk seandainya pihak pengganggu itu jumlahnya cukup banyak utk bisa saya hadapi sendirian, itu di luar konteks perdebatan ini.

  32. radixwp says:

    anotherorion said: nah memang si pemuda tidak memberikan kekerasan fisik sebelumnya, dan bentuk kekerasan yang didapatkan pun bukan pelampiasan kemarahan atau bentuk hukuman melainkan bentuk media pembelajaran.Memangnya ada aturan hukum di negara mana sih dimana ada hukum yang menganjurkan membalas kekerasan dengan kekerasan? kalo orang dipukul satu kali berhak balas memukul? semua menolak pembalasan kekerasan dengan kekerasan serupa, dalam kasus anak anda sekalipun anda bukan seseorang yang mendapat “rasa sakit” dari kekerasan anak anda, kenapa anda merasa berhak menghajar anak anda?memangnya anda merasakan bogem mentah anak anda sampai anda pun layak memberinya bogem mentah?

    Ketika saya menghajar anak saya yg melakukan kekerasan duluan, itu utk mengajarkan kpdnya bhw “kekerasan itu sama sekali tdk boleh dilakukan, kecuali ada pihak yg melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan”. Itu juga merupakan hak saya sbg org tua yg dijamin oleh undang2.Sdgkan dlm kasus Pak Imam, ia memberikan pesan bhw “pemikiran yg berbeda layak dihadapi dg kekerasan”. Persis spt kelakuan barbar para preman berjubah yg gemar menteror org2 yg punya pemikiran berbeda. Apalagi, Pak Imam kan tdk punya dasar hukum utk melakukan kekerasan tsb (krn bukan org tuanya).Oh ya, jk anda mengamati aturan hukum, jk seseorg melakukan kekerasan thd org lain krn org lain tsb melakukan kekerasan thd dirinya, itu namanya self-defense & sah menurut hukum.

  33. anotherorion says:

    radixwp said: Jk si pencolek marah, saya tetap tdk punya hak menghajarnya. Tapi, jk ia hendak melakukan kekerasan thd saya atau pasangan saya, barulah saya bisa menghajarnya.Dan jk seandainya pihak pengganggu itu jumlahnya cukup banyak utk bisa saya hadapi sendirian, itu di luar konteks perdebatan ini.

    Bukankah si pencolek sudah mengganggu kebebasan anda? ada intimidasi di sana yang merugikan anda, dan peringatan anda tidak diindahkan tapi apa sebatas itu saja keberanian anda membela diri sendiri?Dalam kasus pengganggu banyak, sebenarnya tidak keluar dari konteks. Banyak kasus dimana masyarakat kita cenderung mendiamkan perlakuan tidak adil terhadap mereka hanya karena mereka kalah kuat, kalah banyak dan kalah berkuasa. Bercermin dari sana mungkin memang seperti inilah sifat manusia Indonesia kebanyakan, cukup mudah diintimidasi dan ditekan hanya karena merasa “kurang” dari lawannya.

  34. anotherorion says:

    radixwp said: Ketika saya menghajar anak saya yg melakukan kekerasan duluan, itu utk mengajarkan kpdnya bhw “kekerasan itu sama sekali tdk boleh dilakukan, kecuali ada pihak yg melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan”. Itu juga merupakan hak saya sbg org tua yg dijamin oleh undang2.Sdgkan dlm kasus Pak Imam, ia memberikan pesan bhw “pemikiran yg berbeda layak dihadapi dg kekerasan”. Persis spt kelakuan barbar para preman berjubah yg gemar menteror org2 yg punya pemikiran berbeda. Apalagi, Pak Imam kan tdk punya dasar hukum utk melakukan kekerasan tsb (krn bukan org tuanya).Oh ya, jk anda mengamati aturan hukum, jk seseorg melakukan kekerasan thd org lain krn org lain tsb melakukan kekerasan thd dirinya, itu namanya self-defense & sah menurut hukum.

    Di mana dalam tulisan di atas ada yang bisa anda terjemahkan sebagai “pemikiran yg berbeda layak dihadapi dg kekerasan”2 kasus yang kita perbandingkan cukup simpel kok;1. Dalam kasus pak Imam, daging ketemu daging = sakit pembelajarannya setan ketemu api = sakit juga analoginya; setan dimasukkan neraka juga kesakitan Pak Imam marah sama pemuda??? —-engga—-2. Dalam kasus kekerasan oleh anak, si anak ditampar = sakit pembelajarannya si anak nampar temennya = sakit juga analoginya; rasanya tamparan itu sakit Anda marah sama anak anda???? —–jawab sendiri—–Anda yakin anda berhak menampar anak anda dari mana? kasus2 KDRT sudah banyak loh diagendakan untuk disidangkan dimana2. Jangan lupa, dimanapun yang namanya “self defense” hanya berlaku untuk dirinya sendiri/harta/keluarga, dalam kasus anda karena si pelaku adalah anak anda yang berarti masih bagian keluarga anda maka “self defense” hanya bisa dilakukan karena satu alasan saja yaitu jika dan hanya jika anda ditampar duluan oleh anak anda!

  35. radixwp says:

    anotherorion said: Bukankah si pencolek sudah mengganggu kebebasan anda? ada intimidasi di sana yang merugikan anda, dan peringatan anda tidak diindahkan tapi apa sebatas itu saja keberanian anda membela diri sendiri?Dalam kasus pengganggu banyak, sebenarnya tidak keluar dari konteks. Banyak kasus dimana masyarakat kita cenderung mendiamkan perlakuan tidak adil terhadap mereka hanya karena mereka kalah kuat, kalah banyak dan kalah berkuasa. Bercermin dari sana mungkin memang seperti inilah sifat manusia Indonesia kebanyakan, cukup mudah diintimidasi dan ditekan hanya karena merasa “kurang” dari lawannya.

    Saya sih berpegang kpd hukum yg berlaku. Jk saya sampai menghajar pengganggu yg tdk melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, justru saya-lah yg bisa dituntut krn itu tdk termasuk dlm self-defense.Jk pihak yg melakukan kekerasan berjumlah banyak, di situlah peran negara. Aparat negara wajib melindungi warga dari ancaman kekerasan pihak yg lbh brutal & beringas, misalnya para preman berjubah di Monas yg menganiaya para demonstran tempo hari.

  36. radixwp says:

    anotherorion said: Di mana dalam tulisan di atas ada yang bisa anda terjemahkan sebagai “pemikiran yg berbeda layak dihadapi dg kekerasan”2 kasus yang kita perbandingkan cukup simpel kok;1. Dalam kasus pak Imam, daging ketemu daging = sakit pembelajarannya setan ketemu api = sakit juga analoginya; setan dimasukkan neraka juga kesakitan Pak Imam marah sama pemuda??? —-engga—-2. Dalam kasus kekerasan oleh anak, si anak ditampar = sakit pembelajarannya si anak nampar temennya = sakit juga analoginya; rasanya tamparan itu sakit Anda marah sama anak anda???? —–jawab sendiri—–Anda yakin anda berhak menampar anak anda dari mana? kasus2 KDRT sudah banyak loh diagendakan untuk disidangkan dimana2. Jangan lupa, dimanapun yang namanya “self defense” hanya berlaku untuk dirinya sendiri/harta/keluarga, dalam kasus anda karena si pelaku adalah anak anda yang berarti masih bagian keluarga anda maka “self defense” hanya bisa dilakukan karena satu alasan saja yaitu jika dan hanya jika anda ditampar duluan oleh anak anda!

    Dlm poin #1, sama sekali tdk ada kaitannya dg kekerasan scr riil. Pak Imam hanya mengkait2an seenaknya & itu tdk bisa dijadikan pembenaran ketika penganiayaan tsb dituntut scr hukum.Sdgkan dlm poin #2, si anak sdh jelas2 melakukan kekerasan thd pihak lain. Sbg org tua, saya punya hak mendidiknya. Tujuan saya juga sejalan dg tujuan UU KDRT, yaitu menghapus kultur kekerasan, shg saya tdk akan dihukum.

  37. anotherorion says:

    radixwp said: Saya sih berpegang kpd hukum yg berlaku. Jk saya sampai menghajar pengganggu yg tdk melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, justru saya-lah yg bisa dituntut krn itu tdk termasuk dlm self-defense.Jk pihak yg melakukan kekerasan berjumlah banyak, di situlah peran negara. Aparat negara wajib melindungi warga dari ancaman kekerasan pihak yg lbh brutal & beringas, misalnya para preman berjubah di Monas yg menganiaya para demonstran tempo hari.

    orang yang berani bukan ga punya rasa takut bung, mereka punya rasa takut tapi lebih mau keluar dari ketakutannya. gak masalah buat saya musuh banyak engga saya lebih memilih melawan daripada diam

  38. anotherorion says:

    radixwp said: Dlm poin #1, sama sekali tdk ada kaitannya dg kekerasan scr riil. Pak Imam hanya mengkait2an seenaknya & itu tdk bisa dijadikan pembenaran ketika penganiayaan tsb dituntut scr hukum.Sdgkan dlm poin #2, si anak sdh jelas2 melakukan kekerasan thd pihak lain. Sbg org tua, saya punya hak mendidiknya. Tujuan saya juga sejalan dg tujuan UU KDRT, yaitu menghapus kultur kekerasan, shg saya tdk akan dihukum.

    Tapi dalam kasus pak imam tidak masuk dalam UU KDRT kan? pak imam dan pemuda jelas tidak sedang berumah tangga, lagipula tidak ada kekerasan didalamnya, melainkan pembelajaran yang keras, bagaimana dulu anda belajar hingga pantas disebut manusia sekarang? pernahkah dipukul orang tua anda hanya karena anda gagal melakukan sesuatu/mogok makan/melakukan kekonyolan yang merugikan? apakah anda menilai hal tersebut kekerasan atau pembelajaran yang keras?dalam hal ini patut dipertanyakan mengapa jika anda tidak melakukan kekerasan melainkan pemogokan, apa waktu itu anda juga menuntut orang tua anda? dengan tuntutan melakukan KDRT?ups UU KDRT pasti belum berlaku kan?

  39. radixwp says:

    anotherorion said: orang yang berani bukan ga punya rasa takut bung, mereka punya rasa takut tapi lebih mau keluar dari ketakutannya. gak masalah buat saya musuh banyak engga saya lebih memilih melawan daripada diam

    Saya sih berpegang kpd hukum. Jk hukum melarang saya melakukan kekerasan fisik, maka saya akan mematuhinya.

  40. radixwp says:

    anotherorion said: Tapi dalam kasus pak imam tidak masuk dalam UU KDRT kan? pak imam dan pemuda jelas tidak sedang berumah tangga, lagipula tidak ada kekerasan didalamnya, melainkan pembelajaran yang keras, bagaimana dulu anda belajar hingga pantas disebut manusia sekarang? pernahkah dipukul orang tua anda hanya karena anda gagal melakukan sesuatu/mogok makan/melakukan kekonyolan yang merugikan? apakah anda menilai hal tersebut kekerasan atau pembelajaran yang keras?dalam hal ini patut dipertanyakan mengapa jika anda tidak melakukan kekerasan melainkan pemogokan, apa waktu itu anda juga menuntut orang tua anda? dengan tuntutan melakukan KDRT?ups UU KDRT pasti belum berlaku kan?

    Yg dilakukan Pak Imam adlh penganiayaan ringan, yg ada sanksi hukumnya berdasarkan KUHP.Yg boleh melakukan pendidikan dg kekerasan hanyalah org tua, itupun hrs dg alasan2 yg sangat ketat. Pihak lain, termasuk guru atau org2 macam Pak Imam jelas tdk punya hak melakukan pendidikan dg kekerasan.Anda ini toleran sekali dg kekerasan ya.

  41. anotherorion says:

    radixwp said: Saya sih berpegang kpd hukum. Jk hukum melarang saya melakukan kekerasan fisik, maka saya akan mematuhinya.

    dalam kasus yang terjadi adalah ketika kita diserang/terancam, bukan masalah konteks hukum2nya, tapi bagaimana anda mempertahankan apa yang menjadi kewajiban anda

  42. anotherorion says:

    radixwp said: Yg dilakukan Pak Imam adlh penganiayaan ringan, yg ada sanksi hukumnya berdasarkan KUHP.Yg boleh melakukan pendidikan dg kekerasan hanyalah org tua, itupun hrs dg alasan2 yg sangat ketat. Pihak lain, termasuk guru atau org2 macam Pak Imam jelas tdk punya hak melakukan pendidikan dg kekerasan.Anda ini toleran sekali dg kekerasan ya.

    Jadi ada perkecualian untuk “kekerasan dalam pendidikan” yang anda anggap tepat dan perlu dibudidayakan sedangkan jenis yang lain anda tolak, anda juga memiliki toleransi yang sama dengan saya terhadap kekerasan dalam pendidikan hanya jenis kekerasan yang ditimbulkan berbeda.Tentu akan sangat konyol, dicemooh dan jadi bahan tertawaan jika seorang calon tamtama POLRI atau taruna TNI mendapat pendidikan yang lemah lembut seperti pendidikan kursus PKK. Mungkinkah instansi pendidikan semacam itu menyerahkan tindakan “pendidikan yang keras” dengan menyerahkan bentuk kekerasan pada orang tua para siswanya???

  43. radixwp says:

    anotherorion said: dalam kasus yang terjadi adalah ketika kita diserang/terancam, bukan masalah konteks hukum2nya, tapi bagaimana anda mempertahankan apa yang menjadi kewajiban anda

    Hukum hrs dijunjung tinggi dlm keadaan apapun. Jk saya melakukan excessive force hanya krn punya persepsi merasa terancam, ujung2nya saya justru bisa diperkarakan oleh org yg saya anggap mengancam tadi.

  44. radixwp says:

    anotherorion said: Jadi ada perkecualian untuk “kekerasan dalam pendidikan” yang anda anggap tepat dan perlu dibudidayakan sedangkan jenis yang lain anda tolak, anda juga memiliki toleransi yang sama dengan saya terhadap kekerasan dalam pendidikan hanya jenis kekerasan yang ditimbulkan berbeda.Tentu akan sangat konyol, dicemooh dan jadi bahan tertawaan jika seorang calon tamtama POLRI atau taruna TNI mendapat pendidikan yang lemah lembut seperti pendidikan kursus PKK. Mungkinkah instansi pendidikan semacam itu menyerahkan tindakan “pendidikan yang keras” dengan menyerahkan bentuk kekerasan pada orang tua para siswanya???

    Dlm pendidikan militer, kekerasan kan sesuatu yg sangat berkaitan dg bidang pekerjaan mereka kelak. Jadi, wajar saja jk hal tsb disertakan dlm pendidikan. Sama halnya dg latihan kumite dlm karate. Masa cuma latihan kata terus2an.Dlm konteks pendidikan saya (& org2 beradab pd umumnya), tujuannya adlh menghapuskan praktik kekerasan. Sdgkan dlm konteks anda, anda menoleransi kekerasan digunakan sbg instrumen utk menghadapi hal2 yg bukan kekerasan.Ketika seseorg menoleransi kekerasan utk membungkam pendpt yg berbeda, hasilnya bisa kita lihat dlm penganiayaan massal yg dilakukan kaum Islam fundamentalis thd demonstran di Monas tempo hari.

  45. anotherorion says:

    radixwp said: Hukum hrs dijunjung tinggi dlm keadaan apapun. Jk saya melakukan excessive force hanya krn punya persepsi merasa terancam, ujung2nya saya justru bisa diperkarakan oleh org yg saya anggap mengancam tadi.

    jadi anda takut jika ternyata anda harus dilaporkan begitu?mudah sekali mengintimidasi orang2 seperti anda untuk tetap diam meskipun dianiaya. tidak memiliki spirit untuk memperjuangkan diri sendiri

  46. anotherorion says:

    radixwp said: Dlm pendidikan militer, kekerasan kan sesuatu yg sangat berkaitan dg bidang pekerjaan mereka kelak. Jadi, wajar saja jk hal tsb disertakan dlm pendidikan. Sama halnya dg latihan kumite dlm karate. Masa cuma latihan kata terus2an.Dlm konteks pendidikan saya (& org2 beradab pd umumnya), tujuannya adlh menghapuskan praktik kekerasan. Sdgkan dlm konteks anda, anda menoleransi kekerasan digunakan sbg instrumen utk menghadapi hal2 yg bukan kekerasan.Ketika seseorg menoleransi kekerasan utk membungkam pendpt yg berbeda, hasilnya bisa kita lihat dlm penganiayaan massal yg dilakukan kaum Islam fundamentalis thd demonstran di Monas tempo hari.

    Halah, klo gitu justru kejadian pak imam bisa menambah daftar bahwa sakitnya ditampar itu untuk memberitahu jika kita mati nanti dan masuk neraka rasanya lebih sakit, dan kita memang harus siap menerima kemungkinan tersebut. Toh, meskipun anda ngomong2 teriak2 tentang preman berjubah, dalam kasus pengandaian jika anda ada dalam posisi terjepit justru anda lebih mencuatkan rasa ketakutan anda daripada rasa ingin melawan ketidak adilan tersebut.

  47. radixwp says:

    anotherorion said: jadi anda takut jika ternyata anda harus dilaporkan begitu?mudah sekali mengintimidasi orang2 seperti anda untuk tetap diam meskipun dianiaya. tidak memiliki spirit untuk memperjuangkan diri sendiri

    Hukum dibuat utk melindungi warga. Saya percaya & patuh kpd hukum. Jk hukum melarang saya melakukan kekerasan fisik thd org yg tdk melakukan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan fisik, maka saya akan patuhi.Kepatuhan spt itulah yg merupakan fondasi kehidupan bernegara.

  48. radixwp says:

    anotherorion said: Halah, klo gitu justru kejadian pak imam bisa menambah daftar bahwa sakitnya ditampar itu untuk memberitahu jika kita mati nanti dan masuk neraka rasanya lebih sakit, dan kita memang harus siap menerima kemungkinan tersebut. Toh, meskipun anda ngomong2 teriak2 tentang preman berjubah, dalam kasus pengandaian jika anda ada dalam posisi terjepit justru anda lebih mencuatkan rasa ketakutan anda daripada rasa ingin melawan ketidak adilan tersebut.

    Argumen semacam itu tdk akan menjauhkan Pak Imam dari hukuman penjara (plus hukuman denda jk si pemuda juga mempermasalahkannya scr perdata).

  49. anotherorion says:

    radixwp said: Hukum dibuat utk melindungi warga. Saya percaya & patuh kpd hukum. Jk hukum melarang saya melakukan kekerasan fisik thd org yg tdk melakukan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan fisik, maka saya akan patuhi.Kepatuhan spt itulah yg merupakan fondasi kehidupan bernegara.

    Apa ada anjuran hukum negara ini yang menganjurkan anda membalas perlakuan anak anda?

  50. anotherorion says:

    radixwp said: Argumen semacam itu tdk akan menjauhkan Pak Imam dari hukuman penjara (plus hukuman denda jk si pemuda juga mempermasalahkannya scr perdata).

    Silahkan saja anda laporkan kasus pak Imam pada polisi, jika perlu. mungkin kemungkinan terbaik bagi anda yang terjadi justru saya yang bakal ditangkap karena pak imam hanyalah tokoh khayalan dalam cerita saya!!!hehehe

  51. radixwp says:

    anotherorion said: Apa ada anjuran hukum negara ini yang menganjurkan anda membalas perlakuan anak anda?

    Hukum negara mengamanatkan bhw tindak kekerasan fisik itu salah. Dan saya mendidik anak saya dlm spirit yg sama.

  52. radixwp says:

    anotherorion said: Silahkan saja anda laporkan kasus pak Imam pada polisi, jika perlu. mungkin kemungkinan terbaik bagi anda yang terjadi justru saya yang bakal ditangkap karena pak imam hanyalah tokoh khayalan dalam cerita saya!!!hehehe

    Perhatikan kata “jika” dlm posting saya tgl 26 Mei πŸ˜€

  53. anotherorion says:

    radixwp said: Hukum negara mengamanatkan bhw tindak kekerasan fisik itu salah. Dan saya mendidik anak saya dlm spirit yg sama.

    dalam pertanyaan si pemuda tidak ada kaitannya dalam pertanyaan konsep hukum negara, jadi kita lihat dia bertanya tentang hukum agama, jadi dijawab dengan hukum sebab akibat yang ada dalam agama, ingat negara ga mengatur kapling2 di surga dan neraka. Jawabannya bakalan cukup puitis jika negara mengatur keyakinan banyak umat tentang surga dan neraka kan?

  54. anotherorion says:

    radixwp said: Perhatikan kata “jika” dlm posting saya tgl 26 Mei πŸ˜€

    jadi anda harus sepakat “jika” kita sedang ngomongin sesuatu yang tidak benar2 ada, dan tentu saja hukum negara tidak akan menghakimi sesuatu yang “jika” tidak ada secara nyata. Cukup sebagai relevansi saja

  55. radixwp says:

    anotherorion said: dalam pertanyaan si pemuda tidak ada kaitannya dalam pertanyaan konsep hukum negara, jadi kita lihat dia bertanya tentang hukum agama, jadi dijawab dengan hukum sebab akibat yang ada dalam agama, ingat negara ga mengatur kapling2 di surga dan neraka. Jawabannya bakalan cukup puitis jika negara mengatur keyakinan banyak umat tentang surga dan neraka kan?

    Pertanyaan si pemuda itu tdk merugikan siapapun. Tapi, ia mendpt respon penganiayaan, yg bertentangan dg hukum negara. Krn itu, wajar jk perbuatan tsb dilaporkan ke aparat hukum.

  56. radixwp says:

    anotherorion said: jadi anda harus sepakat “jika” kita sedang ngomongin sesuatu yang tidak benar2 ada, dan tentu saja hukum negara tidak akan menghakimi sesuatu yang “jika” tidak ada secara nyata. Cukup sebagai relevansi saja

    Saya juga memberikan referensi (bukan relevansi) kpd org2 lain yg mungkin mengalami penganiayaan sbgmana yg dialami oleh si pemuda tsb.

  57. anotherorion says:

    radixwp said: Pertanyaan si pemuda itu tdk merugikan siapapun. Tapi, ia mendpt respon penganiayaan, yg bertentangan dg hukum negara. Krn itu, wajar jk perbuatan tsb dilaporkan ke aparat hukum.

    tidak merugikan pak imam, jawaban yang diberikan pak imam “sangat logis” untuk masalah neraka ini tidak peduli jika kasus tersebut terjadi di dalam negara komunis sekalipun

  58. anotherorion says:

    radixwp said: Saya juga memberikan referensi (bukan relevansi) kpd org2 lain yg mungkin mengalami penganiayaan sbgmana yg dialami oleh si pemuda tsb.

    sebuah referensi tidak lah tepat sama, misal kasus anak anda, anda sudah lihat bukan sesuatu yang sama 100% wajar jika ada perbedaan di keduanya. karena kasus berbeda

  59. radixwp says:

    anotherorion said: tidak merugikan pak imam, jawaban yang diberikan pak imam “sangat logis” untuk masalah neraka ini tidak peduli jika kasus tersebut terjadi di dalam negara komunis sekalipun

    Jawaban yg “sangat logis” (pakai tanda petik) itu masuk dlm lingkup pelanggaran hukum, shg layak utk diperkarakan ke aparat hukum. Berani berbuat hrs berani tanggung akibatnya kan.

  60. radixwp says:

    anotherorion said: sebuah referensi tidak lah tepat sama, misal kasus anak anda, anda sudah lihat bukan sesuatu yang sama 100% wajar jika ada perbedaan di keduanya. karena kasus berbeda

    Apa yg saya lakukan thd anak saya tdk masuk pelanggaran KUHP, krn posisi saya sbg org tua. Juga tdk masuk pelanggaran UU KDRT, krn tujuan saya sama dg UU tsb, yaitu mendidik sikap anti-kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: