Kenapa aku harus Atheis?

Hari ini sekali lagi aku pengin ngeluarin uneg – unegku, yup hanya sekedar untuk mengurangi apa yang tersimpan di otak. Beberapa minggu kemarin aku mendapati sebuah tulisan yang cukup aneh, yaitu tentang keTuhanan, dalam postingan tersebut penulisnya memposisikan diri sebagai seorang Atheis yang meyakini bahwa Tuhan tidak ada, plus di dukung dengan argumentasi2nya, baginya seandainya argumennya salah maka dia tetap menganggap Tuhan yang kita kenal merupakan Tuhan yang pasif, yang cuma bisa menonton roda kehidupan di dunia tanpa memberikan komentar atau tanggapan terhadap peristiwa yang terjadi. Apa yang terjadi di dunia ini murni akibat sebab akibat bukan karena campur tangan Zat Pencipta.

Sebagai orang yang tidak mempercayai Tuhan maka agama tentu bukanlah sesuatu yang sakral dan pantas dijadikan pegangan, karena agama yang jumlahnya memang banyak, bermacam2 dan semua mengklaim sebagai satu2nya jalan menuju Tuhan. Dari munculnya bermacam2 agama maka dapat disimpulkan bahwa agama tidak lain hanya sekedar manifestasi peradaban manusia yang tidak berbeda dengan kebudayaan. Agama merupakan panduan norma2 untuk ditaati oleh kelompoknya, agama merupakan inisiatif dari pribadi/sekelompok orang untuk menentukan siapa Tuhan mereka dan bagaimana seharusnya manusia tunduk terhadap “Tuhan” sebagai representasi kesakralan yang harus ditaati. Karena itu posisi Tuhan adalah sebagai ciptaan kehendak manusia, dengan kata lain Tuhan adalah Makhluk yang diciptakan manusia untuk disembah. Dengan begitu maka praktis dia tidak mengakui adanya nabi2, orang2 suci maupun mukjizat2 yang dipercaya oleh pemeluk2 agama sebagai bagian dari keimanan, hanya sebagai mitos2 sebagai daya pikat untuk menarik khalayak kepada aturan main agamanya, tidak ada alasan logis sebab akibat dalam mukjizat2 yang dikisahkan dalam kitab suci. Alasan2 tersebut bagi orang atheis mungkin cukup masuk akal tapi bagiku cara pemikirannya terlalu dangkal, dan buatku cukup aneh jika orang2 memilih menjadi atheis karena alasan2 tersebut di atas.

Bagiku Tuhan itu ada, dan sebagai umat muslim aku meyakini Tuhan adalah Dzat Agung yang tidak bisa tergambarkan oleh panca indera manusia. Tapi eksistensi Tuhan bisa kita temukan dari eksistensi makhluk2 ciptaanNya, manusia, hewan, tanaman, bumi, tata surya dsb. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna tentu tidak sekedar memenuhi siklus lahir-hidup-mati, makan-minum-tidur, tapi tentu ada sebuah Maha Rencana terhadap siklus dan regenerasi manusia sejak zaman Nabi Adam di dunia ini. Apakah Maha Rencana itu?apapun yang Tuhan rencanakan dengan Maha Rencana tersebut tentu itu adalah sesuatu yang begitu besar lingkupnya, begitu agung. Kita tidak akan membahas grand planning Tuhan tersebut tapi membahas tentang diri kita sendiri. Manusia disebut makhluk paling sempurna karena memiliki Cipta, Rasa dan Karsa, sesuatu yang tidak dimiliki makhluk2 Tuhan yang lain bahkan Malaikat dan Iblis sekalipun. Cipta yaitu manusia mampu menciptakan sesuatu yang baru, memiliki kreativitas dan inovasi, Rasa dimana manusia memiliki perasaan, memiliki nurani untuk membedakan mana baik mana yang buruk, dan Karsa manusia memiliki kemampuan untuk berkehendak, berkeinginan dan berhawa nafsu.

Jika kita mengikuti pola eksistensi Tuhan di atas, tentu kita bisa menemukan pola eksistensi manusia berdasarkan hasil peradaban manusia, anak kecil tentu bisa tahu jika sepeda tidak mungkin ada dengan sendirinya, ayam goreng tidak mungkin tersaji begitu saja, ada faktor subjek, objek dan proses dalam hasil penciptaan2 tersebut. Dengan begitu tidak mungkin kita menisbikan adanya Pencipta Manusia/Pencipta Semesta pada proses terjadinya kita. Berbeda dengan manusia Tuhan adalah kreator sebenarnya dari unsur2 di dunia ini. Sedangkan manusia hanya mampu “menciptakan” dalam bentuk manipulasi saja, manusia mampu mengubah logam menjadi sepeda, ayam menjadi ayam goreng, semikonduktor menjadi komponen2 komputer, manusia hanya mampu memanfaatkan dari resource yang ada menjadi bentuk baru dan fungsi yang baru.

Dari penjelasan di atas tentu dapat kita yakini bahwa Alam semesta tidak muncul dengan sendirinya, ada beberapa teori tentang terciptanya alam semesta namun kebanyakan fisikawan sendiri cenderung meyakini bahwa Alam semesta tercipta dari sebuah ledakan Big-Bang, dalam teori Big-bang alam semesta terjadi karena adanya unsur2 yang memadat jadi satu dan kemudian meledak, sisa2 ledakan itulah yang kemudian menjadi ratusan sistem galaksi. jika kita merunut logika sebab akibat, dan menisbikan campur tangan subjek pelaku maka harus ada kejelasan mengapa ada unsur2 yang menjadi sebab musabab Big-Bang, harus ada kejelasan apakah ada pengaruh gaya gravitasi yang membuat unsur2 tersebut memadat dan meledak, sedangkan sampai hari ini setahuku ilmuwan belum bisa menyimpulkan secara pasti faktor2 yang mempengaruhi penciptaan alam semesta dengan pendekatan Big-Bang, jika big-bang terjadi tanpa campur tangan Tuhan maka sesuatu yang nol seharusnya tidak akan mengalami proses apapun apalagi sampai mengakibatkan ledakan Maha Dasyat yang membentuk tatanan alam semesta. Jadi ada subjek pelaku dan objek unsur2 pra semesta sebelum terjadinya ledakan Big Bang tersebut. Tentu penjelasan ini seharusnya direnungkan juga oleh para evolusionis yang meyakini makhluk hidup berasal dari hewan bersel satu yang antah berantah tiba2 nongol di muka bumi lalu berubah menjadi manusia dan monyet.

Kedua dalam faktor mukjizat para atheis dengan berdasar logika sebab akibat meyakini hal tersebut palsu dan mengada2, dalam teori sebab akibat ketika ada sebuah extraordinary process maka akan merusak kaidah teori sebab akibat dan merusak tatanan alam semesta, misal manusia tidak mungkin bisa terbang SEBAB tidak memiliki sayap dan bentuk fisik manusia (anatomi, rangka dan berat tubuh) tidak memungkinkan manusia untuk terbang seperti burung. Jika manusia bisa terbang AKIBATNYA akan merusak teori2 kebenaran tentang fisik manusia itu sendiri. Logika di atas ada benarnya tapi tentu saja teori sebab akibat tidak hanya sampai begitu saja, buatku itu adalah teori sempit, aku ambil contoh kesuksesan seseorang dalam mengerjakan UN, dalam teori sempit kita bisa menjelaskan bahwa siswa harus belajar agar mampu mengerjakan soal2 UN dan sukses lulus dari sekolah. Tapi dalam teori sebab akibat yang kompleks masih banyak sebab2 lain yang menjadi faktor kesuksesan tersebut misal; tidak ada gangguan listrik ketika siswa sedang belajar sebelum UN, tidak ada orang/keadaan yang bisa menyebabkan siswa gagal mengikuti UN (kecelakaan, bangun kesiangan) ada juga siswa yang tidak lulus karena kurang teliti membaca nomor soal; soal no 10 dijawab di no 11 akibatnya jawaban berikutnya salah semua. Jadi jika merunut teori sebab akibat mengenai Mukjizat, maka orang bisa saja terbang tanpa sayap dengan adanya faktor2 lain yang mempengaruhinya, yaitu di ruang hampa udara/gravitasi nol atau memang karena ada campur tangan ke-Ilahian.

Hal terakhir yang lumayan konyol bagiku adalah Jika benar Tuhan itu Esa kenapa semua agama yang ada tidak bisa duduk bersama sejajar dan berfusi menjadi satu sebagai agama keTuhanan saja, bukan agama A, B, C dan seterusnya, atau memang Tuhan hanyalah makhluk khayalan yang diciptakan manusia untuk menakut2i manusia lain untuk tetap tunduk pada norma yang ada sehingga setiap Tuhan memiliki bentuk berbeda sesuai peradaban yang ada. Bagiku selaku uma
t Islam, Tuhan itu Esa hanya Allah SWT semata, logikaku begini seandainya benar Tuhan diciptakan oleh manusia, bagaimana mungkin umat Islam menciptakan “Tuhan” sebagai sesembahan dan menentukan cara peribadatan padaNya? bagaimana mungkin umat Islam mau2nya percaya pada Tuhan yang bentuk dan wujudnya saja tidak pernah mereka rasakan dengan panca indera?? apalagi kalo Nabi Muhammad sampai menciptakan Tuhan??? Ya Ora Mungkin Banget Lah!!!!Atheis ya atheis tapi mbok ya aja bodo2 banget

Comments
30 Responses to “Kenapa aku harus Atheis?”
  1. kata Thufail Al-ghifari kalo orang Atheis bicara tentang Agama kita dengan argumennya sendiri itu berarti dia ngajak perang….lucu bkn, bagaimana mungkin manusia bisa bermain tuhan..Atheis bodoh

  2. anotherorion says:

    andreiarshavine said: kata Thufail Al-ghifari kalo orang Atheis bicara tentang Agama kita dengan argumennya sendiri itu berarti dia ngajak perang….lucu bkn, bagaimana mungkin manusia bisa bermain tuhan..Atheis bodoh

    bisa dipahami Bro orang atheis menggunakan otak yang terbatas sebagai sumber pemahamannya, sedang orang beragama menjadikan otak mereka untuk menemukan kebenaran Ilahi

  3. so.. what do they believe?hoho, semoga hidayah berlimpah saja deh…

  4. anotherorion says:

    bintangterjatuh said: so.. what do they believe?hoho, semoga hidayah berlimpah saja deh…

    entahlah mungkin hanya percaya pada apa yang cukup logis untuk ditampung dikepala mereka saja,

  5. vira80 says:

    itu paling setan berwujud manusia..Wah aku baca semua tanpa terlewat..Sip bngt deh..

  6. vira80 says:

    seperti yg Rio tulis di atas kita bisa melihat Alloh di mana saja, dan merasakan kasih sayangnya kpn sj..dengan cara berfikir tentunya..

  7. soleno says:

    kalo bisa janganlah..

  8. gerings says:

    agar Ia terhindar dari aturan agama dan membenarkan tindakan “bodohnya” maka seseorang memasang label ini dijidatnya…

  9. rawins says:

    Masalah keyakinan terbentuk melalui proses yang berbeda beda pada setiap orangnya. Ada orang yang beragama tertentu hanya karena orang tuanya beragama itu. Atau karena lingkungannya mengarahkan dia kesitu. Ada juga yang melalui proses pencarian panjang.Orang yang beragama karena proses warisan semata, biasanya akan memandang agama dari lingkup yang sangat sempit dan menjadi fanatik. Ketika orang berpikir berbeda dia akan lebih susah untuk menerima. Bahkan perbedaan sering dianggap sebagai serangan secara pribadi, bukan lagi dianggap wacana.Aku bisa memahami ketika ada orang yang mengatakan dirinya atheis, atau percaya tuhan itu ada, tapi dia belum menemukan tuhannya. Dan menurutku itu bukan tindakan bodoh untuk menghindar dari aturan baik agama.Coba lihat orang yang memeluk keyakinan kejawen. Yang oleh negara tidak diakui sebagai agama. Pola kehidupannya begitu apik dan tertata. Hubungan dengan sesama manusia juga nyaris tanpa cela. Aku pikir ini bisa terjadi karena proses keyakinannya melalui pencarian panjang tentang sangkan paraning dumadi.Sebaliknya ketika agama hanya karena doktrin keluarga atau lingkungan. Pemahamannya begitu dalam tentang habluminallah tapi cetek ketika sampai di sisi habluminanas. Sampai akhirnya tercipta teroris-teroris dari yang kecil tingkat fpi sampai yang kelas dunia seperti mr bush yang konon begitu kuat agamanya. Agama kita memang paling benar, untuk kita. Tapi kita juga harus bisa mengakui kebenaran agama lain untuk yang lain, termasuk yang belum menemukan siapa tuhannya. Orang taat kepada agamanya itu sangat baik. Tapi ketika ketaatannya itu sudah sampai mencap orang lain salah, berarti dia sudah mengingkari kebenaran agamanya sendiri.

  10. dhekawe says:

    sing penting shalat….

  11. Nek pola pikire wong Atheis iki aku mumet….makane aku mesti gak tau ngungkit2 soal agomo nang ngarepe wong tipe ngono

  12. anotherorion says:

    vira80 said: itu paling setan berwujud manusia..Wah aku baca semua tanpa terlewat..Sip bngt deh..

    banyak menungsa lebih jahat dari setan buktinyamanusia salah masih sempet nyalah2in setan tapi ga pernah denger ada setan bikin dosa nyalah2in manusianya hehehe

  13. anotherorion says:

    vira80 said: seperti yg Rio tulis di atas kita bisa melihat Alloh di mana saja, dan merasakan kasih sayangnya kpn sj..dengan cara berfikir tentunya..

    leres sanget

  14. anotherorion says:

    soleno said: kalo bisa janganlah..

    iya bro jangan menjadi atheis karena Tuhan selalu ada di hati kita

  15. anotherorion says:

    gerings said: agar Ia terhindar dari aturan agama dan membenarkan tindakan “bodohnya” maka seseorang memasang label ini dijidatnya…

    bener lik men nek ana apa2 ora merasa bersalah maring Gusti Allah ndean

  16. anotherorion says:

    rawins said: Masalah keyakinan terbentuk melalui proses yang berbeda beda pada setiap orangnya. Ada orang yang beragama tertentu hanya karena orang tuanya beragama itu. Atau karena lingkungannya mengarahkan dia kesitu. Ada juga yang melalui proses pencarian panjang.Orang yang beragama karena proses warisan semata, biasanya akan memandang agama dari lingkup yang sangat sempit dan menjadi fanatik. Ketika orang berpikir berbeda dia akan lebih susah untuk menerima. Bahkan perbedaan sering dianggap sebagai serangan secara pribadi, bukan lagi dianggap wacana.Aku bisa memahami ketika ada orang yang mengatakan dirinya atheis, atau percaya tuhan itu ada, tapi dia belum menemukan tuhannya. Dan menurutku itu bukan tindakan bodoh untuk menghindar dari aturan baik agama.Coba lihat orang yang memeluk keyakinan kejawen. Yang oleh negara tidak diakui sebagai agama. Pola kehidupannya begitu apik dan tertata. Hubungan dengan sesama manusia juga nyaris tanpa cela. Aku pikir ini bisa terjadi karena proses keyakinannya melalui pencarian panjang tentang sangkan paraning dumadi.Sebaliknya ketika agama hanya karena doktrin keluarga atau lingkungan. Pemahamannya begitu dalam tentang habluminallah tapi cetek ketika sampai di sisi habluminanas. Sampai akhirnya tercipta teroris-teroris dari yang kecil tingkat fpi sampai yang kelas dunia seperti mr bush yang konon begitu kuat agamanya.Agama kita memang paling benar, untuk kita. Tapi kita juga harus bisa mengakui kebenaran agama lain untuk yang lain, termasuk yang belum menemukan siapa tuhannya.Orang taat kepada agamanya itu sangat baik. Tapi ketika ketaatannya itu sudah sampai mencap orang lain salah, berarti dia sudah mengingkari kebenaran agamanya sendiri.

    Hidup itu proses belajar kang, wong atheis nang Indonesia rata2 orang tuanya beragama, bisa jadi mereka menjadi atheis karena melihat agama hanya sebuah kewajiban yang dipaksakan dan diharuskan oleh orang tuanya. Yang terjadi biasanya pembangkangan dan menutup diri terhadap apapun yang bersumber dari agama termasuk kebenaran.Dalam teori pembelajaran kontrukstivisme setiap orang punya ilmu (kebenaran awal) yang diyakini dan diakuinya sendiri sebelum bertemu sebuah permasalahan baru dari permasalahan tersebut dia bisa menguji dan membandingkan apakah permasalahan itu adalah sebuah kebenaran baru atau semakin menguatkan kebenaran awalnya.Karena itu manusia dianugerahi akal dan pikiran untuk mencerna setiap permasalahan dan menemukan sendiri kebenaran2 Tuhan, untuk ilmu umum selalu terbuka untuk diperdebatkan dan diperbaharui tapi mengenai ilmu Tauhid tidak akan ketemu dengan cara dipertentangkan dalam forum karena setiap orang akan mempertahankan akidah masing2 ilmu Tauhid lebih etis diperbandingkan dalam lingkup yang bersifat lebih pribadi

  17. anotherorion says:

    dhekawe said: sing penting shalat….

    karena besok yang ditanyakan pertama kali pada umat Islam adalah sholatnya kan lik?

  18. anotherorion says:

    bambangpriantono said: Nek pola pikire wong Atheis iki aku mumet….makane aku mesti gak tau ngungkit2 soal agomo nang ngarepe wong tipe ngono

    soale mesthi saklek muter2 terus malah repot dewe yo mbang hehehe

  19. riairwanty says:

    Dosenku atheis, masih muda dan sangat pintar lagipula guanteng !!Kadang tiap melihat sosoknya yg guanteng itu saat kuliah, terselip sebuah doa, “smoga dia mendapat hidayah” dari Tuhan. Amin.

  20. anotherorion says:

    riairwanty said: Dosenku atheis, masih muda dan sangat pintar lagipula guanteng !!Kadang tiap melihat sosoknya yg guanteng itu saat kuliah, terselip sebuah doa, “smoga dia mendapat hidayah” dari Tuhan. Amin.

    Amin Ria semoga sadar kegantengan dan kepintarannya adalah anugerah Tuhan

  21. riairwanty says:

    anotherorion said: Amin Ria semoga sadar kegantengan dan kepintarannya adalah anugerah Tuhan

    Iyee betul banget…Klo aq sih sdh sangat bersyukur karna slalu dipertemukan org secakep itu.heheheh

  22. anotherorion says:

    riairwanty said: Klo aq sih sdh sangat bersyukur karna slalu dipertemukan org secakep itu.

    wow keren hehehe wah digebet wae ya digebet

  23. riairwanty says:

    anotherorion said: wow keren hehehe wah digebet wae ya digebet

    ga ahh,ntar anak gw gimana…ikut bapaknya atau ibunya. Anak kan titipan Tuhan, klo dia ga percaya Tuhan, trus nasib anak gw gmn…heheh*pisss ahh*

  24. anotherorion says:

    riairwanty said: ga ahh,ntar anak gw gimana…ikut bapaknya atau ibunya. Anak kan titipan Tuhan, klo dia ga percaya Tuhan, trus nasib anak gw gmn…heheh*pisss ahh*

    heeh yo susah nek gitu ganti bapak sik sebelum punya anak hehehe

  25. riairwanty says:

    anotherorion said: heeh yo susah nek gitu ganti bapak sik sebelum punya anak hehehe

    nah ntuh dia….heheheh*smoga bapak segera mendapat hidayah ya*

  26. anotherorion says:

    riairwanty said: nah ntuh dia….heheheh*smoga bapak segera mendapat hidayah ya*

    amin amin amin

  27. rawins says:

    Memang itu sebuah masalah umum di sebagian masyarakat kita. Teramat sulit untuk memisahkan antara keyakinan dan wawasan. Ketika sesuatu dijadikan wacana, kadang dianggap sebagai penyerangan terhadap akidah. Padahal dengan pemikiran seperti itu, dia sendirilah yang memulai penyerangan itu.Aku sendiri lebih bisa menghargai orang yang terus terang dengan keatheisannya itu daripada orang yang mengaku beragama tapi tingkah polah perilaku beragamanya hanya menyentuh kulit dan tanpa isi.Mengarahkan orang atheis ke suatu keyakinan akan lebih mudah asal pendekatannya tepat sasaran. Meluruskan orang yang telanjur beragama seringkali lebih sulit walau diarahkan ke agamanya sendiri. Fanatisme yang terlalu kuat kadangkala membuat orang lebih tertutup terhadap pandangan baru. Contoh soalnya adalah perdebatan panjang antara rukyat dan hisab di beberapa kalangan. Mengapa masih banyak orang yang menolak hisab, padahal itu ditemukan oleh ahli falak agamanya sendiri walau berbeda madzab. Pikiran yang tertutup itu membuat orang mudah membuat vonis atas orang lain yang berbeda pandangan walau satu keyakinan. Berbanding terbalik dengan orang-orang kejawen (baca : tidak beragama) yang tak pernah mau mencela orang lain, sebeda apapun keyakinannya. Asal ora goroh, ora dumeh, ora gumunan, kui wis kalebu menungso linuwih uripe. Pemikiran simpel, tapi asik…Banyak pendapat berbeda, buatku merupakan sebuah kewajaran karena proses pembelajarannya juga tidak sama. Mungkin karena pikiranku banyak terganggu oleh pemikiran descartes, cogito ergo sum, makanya aku sering menganggap sesuatu itu tidak ada terlebih dulu sebelum aku memulai proses pencariannya.

  28. anotherorion says:

    rawins said: Memang itu sebuah masalah umum di sebagian masyarakat kita. Teramat sulit untuk memisahkan antara keyakinan dan wawasan. Ketika sesuatu dijadikan wacana, kadang dianggap sebagai penyerangan terhadap akidah. Padahal dengan pemikiran seperti itu, dia sendirilah yang memulai penyerangan itu.Aku sendiri lebih bisa menghargai orang yang terus terang dengan keatheisannya itu daripada orang yang mengaku beragama tapi tingkah polah perilaku beragamanya hanya menyentuh kulit dan tanpa isi.Mengarahkan orang atheis ke suatu keyakinan akan lebih mudah asal pendekatannya tepat sasaran. Meluruskan orang yang telanjur beragama seringkali lebih sulit walau diarahkan ke agamanya sendiri. Fanatisme yang terlalu kuat kadangkala membuat orang lebih tertutup terhadap pandangan baru. Contoh soalnya adalah perdebatan panjang antara rukyat dan hisab di beberapa kalangan. Mengapa masih banyak orang yang menolak hisab, padahal itu ditemukan oleh ahli falak agamanya sendiri walau berbeda madzab.Pikiran yang tertutup itu membuat orang mudah membuat vonis atas orang lain yang berbeda pandangan walau satu keyakinan. Berbanding terbalik dengan orang-orang kejawen (baca : tidak beragama) yang tak pernah mau mencela orang lain, sebeda apapun keyakinannya. Asal ora goroh, ora dumeh, ora gumunan, kui wis kalebu menungso linuwih uripe. Pemikiran simpel, tapi asik…Banyak pendapat berbeda, buatku merupakan sebuah kewajaran karena proses pembelajarannya juga tidak sama. Mungkin karena pikiranku banyak terganggu oleh pemikiran descartes, cogito ergo sum, makanya aku sering menganggap sesuatu itu tidak ada terlebih dulu sebelum aku memulai proses pencariannya.

    pemikiran menarik kang, pada dasarnya orang bisa menerima perbedaan ketika perbedaan tidak dipertentangkan tapi di cari pemahaman global mengenainya syukur bisa menemukan kesimpulan bersama dari sudut pandang berbeda.melihat objek yang sama dari sudut pandang berbeda bisa memberikan kesimpulan yang berbeda juga

  29. rawins says:

    anotherorion said: melihat objek yang sama dari sudut pandang berbeda bisa memberikan kesimpulan yang berbeda juga

    Persis lik. Alangkah indahnya bila kita bisa melihat dari banyak sisi sebelum membuat sebuah keputusan. Apa yang terlihat memihak keyakinan kita kadang justru menjerumuskan kita sendiri tanpa kita sadari. Seperti snouck hourgronye lah…

  30. anotherorion says:

    rawins said: Persis lik. Alangkah indahnya bila kita bisa melihat dari banyak sisi sebelum membuat sebuah keputusan. Apa yang terlihat memihak keyakinan kita kadang justru menjerumuskan kita sendiri tanpa kita sadari. Seperti snouck hourgronye lah…

    sip sip lah pokoke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: