Idealisme Keislaman dalam Bayang – bayang Tradisi

Banyak diantara kita berfikir tentang idealisme, ketika kita berfikir tentang sebuah idealisme maka kita memiliki hasrat untuk mewujudkan nilai2 ideal tersebut, namun adakalanya kita tidak bisa menerima realitas yang ada hanya karena faktor idealisme yang belum terjadi hari ini

Lalu apakah dengan begitu kita dilarang berfikir tentang idealisme tentu tidak kan? yup kita hidup di dunia ini tentu berharap pada awal yang baik, cara yang baik dan goal yang baik, namun dunia ini tidak diciptakan dalam bentuk yang paling ideal, keadilan misalnya adalah sebuah idealisme namun sampai hari ini kita masih belum menemukan bentuk terbaik dari keadilan.

Begitu juga dengan keyakinan, ilmu dan bentuk2 lain yang masih akan terus kita gali kebenarannya sampai tutup usia kita. Setiap orang memiliki kadar resistansi dan tingkat pengetahuan berbeda dalam menyikapi permasalahan dan tolak ukur yang berbeda tersebut hendaknya bisa dijadikan sebuah pedoman dalam bertoleransi dalam kehidupan ini. Sebuah nilai yang baik yang bisa kita laksanakan akan lebih bermakna jika kita istiqomah menjalankannya namun tidak semua orang mampu menjalankannya, baik itu karena keterbatasan pendidikan, pemahaman maupun kesempatan.

Dunia akan selalu menemukan kebenaran2 baru, ilmu2 baru, bagi kita yang berkesempatan dapat ikut merasakannya tentu bisa bersyukur karena kita mendapat kesempatan itu tapi tidak bagi sebagian yang belum menemukannya. Oleh karena itu jika kita meyakini sebuah kebenaran yang tidak orang lain miliki alangkah lebih baik jika kita mensyiarkannya agar lingkungan kita pun mendapat hikmah dari kebenaran2 tersebut.

Dalam sejarah masuknya Islam ke nusantara kita mengenal Islam disebarkan oleh pedagang2 dari Gujarat dan timur tengah pada beberapa abad yang lampau, namun sampai hari ini pun kita menyadari meskipun negara kita adalah pemeluk terbesar Islam di dunia tetap saja secara kualitas keislaman kita masih belum banyak beranjak dari masa2 kesultanan dulu.

Dari pelajaran sejarah di waktu SD dulu, kita tahu Islam masuk ke nusantara disebarkan dengan jalan yang damai, dan mudah diterima masyarakat, berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa barat ke Indonesia. Memang benar demikian yang kita pelajari waktu itu tapi kita juga harus melihat ada faktor lain yang mempengaruhi mudahnya Islam diterima di nusantara.

Salah satu faktor tersebut adalah asimilasi dengan kebudayaan lokal nusantara zaman dulu, sebagai tanah yang dikuasai oleh kerajaan2 hindu – budha dan sebagian masyarakat masih menganut animisme dinamisme para penyebar agama Islam dihadapkan dengan objek dakwah yang memiliki resistansi tinggi terhadap sebuah akidah baru. Oleh karena itu asimilasi adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat menerima sesuatu yang baru.

Aku ambil contoh dalam kisah para wali, Sunan Kalijaga membuat media wayang kulit dan gending2 macapat untuk menarik minat masyarakat belajar agama, Sunan Kudus menggunakan menara Kudus yang bercorak Hindu untuk menarik masyarakat masuk ke dalam masjid. Sedikit2 demi sedikit masyarakat diajari permasalahan muamalah, ibadah dan kemudian tauhid. Penyebaran islam ini menghasilkan Islam abangan yang memeluk Islam namun masih mempertahankan tradisi kebudayaan leluhur mereka, sampai saat ini masih banyak umat Islam di negara ini yang mencampur adukkan kebudayaan musyrik dengan Islam, misalnya dalam perayaan2 kebudayaan yang melibatkan doa2 dari AlQur’an plus jampi2, sesaji yang dipersembahkan pada makhluk halus.

Meskipun para wali tidak pernah mengajarkan untuk mencampuradukan ayat2 quran dengan sesaji bukan tidak mungkin pemahaman masyarakat waktu itu menganggap hal itu bukan hal tabu, dan berkembang menjadi tradisi baru seperti islam kejawen.

Berlanjut ke awal abad 20 ketika KH Hasyim Anshori mendirikan NU sebagai organisasi keagamaan di daerah pedesaan, mungkin untuk beberapa dari kita melihat NU meskipun merupakan organisasi muslim terbesar namun masih kesulitan menghilangkan penyakit TBC dalam kehidupan beragama masyarakatnya. Dalam keseharian warga NU masih mengenal istilah kenduri, peringatan 7 hari, 40 hari, 1000 hari, yang tidak pernah diajarkan Nabi. Hari ini kita masih sibuk mudik lebaran ke rumah orang tua, masih sibuk mencari ketupat dan opor ayam, kita tahu mudik dan ketupat bukan termasuk ajaran Islam hanya merupakan kebudayaan lokal yang menyertai sebuah perayaan Islam, lalu apakah kita juga harus meniadakan hal tersebut karena tidak diajarkan dalam Quran dan hadits?

Tapi marilah kita bersifat arif dalam menghadapi hal2 tersebut, meskipun banyak warga NU yang menjalankan berbagai aktifitas tersebut namun satu hal yang kita dapat simpulkan NU tidak mengajarkan untuk menduakan Tuhan, tidak pernah. Prinsip Allah adalah Tuhan yang Esa masih dipegang teguh NU, NU sudah berjuang melawan tradisi syirik yang masih tertinggal di masyarakatnya ketika itu, masalah apakah berhasil itu soal lain, dan itulah tugas kita sebenarnya, daripada kita melihat ormas Islam lain bersalah karena mentolerir TBC akan lebih baik jika kita mulai menyadarkan masyarakat untuk lebih giat beribadah. Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. Bicara Islam bukan hanya bicara AlQuran, hanya bicara kenabian, bicara Arab dan Palestina, bicara islam juga berarti berbicara kualitas keislaman lingkungan kita, saudara2 kita yang hanya mengenal Islam karena garis keturunan, yang belum bisa membedakan ibadah dan bid’ah, kehidupan ekonomi mereka dengan lingkungan demografi dan sosiologi lokal masing2.

Boleh jadi kenduri merupakan cara untuk mendekatkan masyarakat pada ALQuran daripada nongkrong dipinggir jalan dan bermabuk2an, kita boleh tidak setuju dengan cara tersebut karena tidak diajarkan pada Nabi tapi kita masih bisa melihat manfaat dari cara itu. Masyarakat yang terbiasa melakukan kenduri belum tentu akan ikhlas jika kita melarang mereka melakukan kenduri, yang terjadi justru konflik sektarian bukan solusi permasalahan. Jangan hanya karena kita tidak sependapat maka kita harus menjauhinya, justru disinilah peluang kita untuk memberikan pemahaman kepada mereka dengan cara yang santun dan bersahabat.

Mengingat Islamisasi di negeri ini sebetulnya belum selesai maka tugas kita meneruskan estafet dakwah yang dimulai para wali hingga generasi sebelum kita, tugas dakwah kita lebih mudah dari para pendakwah di awal sejarah karena kita tidak berhadapan dengan umat dakwah yang kontra dengan Islam, tidak berhadapan dengan penguasa yang non muslim dan tidak berhadapan pula dengan penjajahan di negeri kita. Jangan salahkan mereka yang berjuang lebih dulu dari kita, karena objek dan medan dakwah mereka tidak sama dengan kita. Aku yakin cita2 para wali, Kyai Hasyim dan para pendakwah waktu itu adalah menyebarkan islam yang murni, hanya saja dalam usahanya mereka belum berhasil
merampungkan cita2nya karena keterbatasan usia, yang pasti mereka sudah menanamkan ajaran keTauhidan dan ilmu2 keIslaman lainnya. Ibarat kata hari ini kita hanya terima jadi dari apa yang sudah diperjuangkan mereka yang hidup lebih dulu dari kita, kita hanya tinggal memolesnya supaya lebih mengkilap, hanya perlu membiasakan masyarakat untuk membedakan mana yang Islami dan mana yang lebih bersifat tradisi, karena sebenarnya masyarakat kita cukup mudah menerima hal baru jika hal tersebut tidak dipertentangkan.

Misalnya, masyarakat kita tidak resistif ketika budaya gaul, keren ala barat karena tidak pernah di pertentangkan secara langsung dengan kebudayaan lokal. Jika kita ingin mengikis tradisi musyrik campur2 yang masih banyak dijumpai dalam tradisi2 kebudayaan misal; sedekah laut, sedekah bumi, tapa bisu, dsb, maka buatlah tradisi yang pure kebudayaan atau yang pure Islam, kalaupun tidak bisa membuat yang ideal yah minimal ada pemilahan dari tradisi sebelumnya misal acara Solo Batik Carnaval, Festival Keraton Nusantara, Tabligh Akbar, dsb. Tapi kita harus mempertahankan tradisi keislaman lokal yang baik seperti mudik lebaran hanya untuk dapat mencium tangan dan memohon maaf pada orang tua kita, Yasinan, yah masing2 dari kita lebih bisa mengukur mana tradisi yang baik dan mana yang buruk, mana yang menghancurkan dan mana yang menguatkan.

Lalu bagaimana jika kita dianggap menghilang2kan tradisi dan jati diri bangsa Indonesia? aku pikir orang2 yang beranggapan begitu bukan orang yang memahami kebudayaan itu sendiri, hanya besar dimulut tapi sepi dalam perbuatan. Kekayaan budaya kita adalah hasil peradaban masa lalu leluhur kita, sehebat apapun kebudayaan kita, harus kita akui kebudayaan itu adalah hasil karya cipta para leluhur bukan kita2 yang hidup saat ini, buatku kebudayaan, kultur dan peradaban selalu datang dan pergi, apakah kita akan menjadi generasi yang hanya bisa mengenang sejarah dan kebudayaan masa lalu atau generasi yang ingin diingat anak cucu kita sebagai generasi kreator yang juga mampu menciptakan kebudayaan yang lebih baik untuk anak cucu kita di masa mendatang? Yang pasti dalam Islam jangan pernah mencampurkan dupa dan doa

Advertisements
Comments
24 Responses to “Idealisme Keislaman dalam Bayang – bayang Tradisi”
  1. bimosaurus says:

    Mantab ulasane Gan.. Memang kadang kita tidak bisa menghindari acara 40 hari, 100 hari, mitoni, 1000 hari dan seterusnya, dimana sebenarnya itu adalah budaya hindu dan animisme lama. Hebatnya para wali song dalam membuat dakwah dengan cara moderat memang kita akui, beliau beliau memasukkan Surah Yasin, dan berbagai bacaan di dalam acara animisme itu sehingga berubah menjadi doa Islami. Sayang sekali, tatkala mereka ingin mulai membersihkan budaya , mereka meninggal. Dan pergerakannya pun mati.. Mengenai budaya, saya juga pernah menuliskan kebingungan saya, ada juga satu teman MP yang juga menuliskan tentang budaya yang bertentangan dengan norma agama, seperti budaya mabuk, adu ayam dan lain sebagainya.. Artinya, kita punya sudut pandang yang berbeda.. Mari belajar bersama.. Matur nuwun tulisan ini

  2. riairwanty says:

    Siipp nih postingan πŸ™‚

  3. ohtrie says:

    anotherorion said: Dari pelajaran sejarah di waktu SD dulu, kita tahu Islam masuk ke nusantara disebarkan dengan jalan yang damai, dan mudah diterima masyarakat, berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa barat ke Indonesia.

    Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. Bicara Islam bukan hanya bicara AlQuran, hanya bicara kenabian, bicara Arab dan Palestina, bicara islam juga berarti berbicara kualitas keislaman lingkungan kita,______Intintya apa yang mo Mas sampekan sedikit banyak bisa saya pahami. Hanya saja… Dari atas saya baca secara runut bahkan berulang kok keknya ada sesuatu yang membuat saya harus men-quote dan mencopy-paste tulisan2 diatas ya Mas….Ada sesuatu yang menurut saya hal itu sangat bertentangan dan tidak menemukan korelasinya….Mohon di check ulang, Matur nuwun…Oh iya Dab,gambare ana sing tak grab nang kene yaaa nuwun…

  4. katerinas says:

    Ulasan yang menarik. bagus!Tfs Rio

  5. vira80 says:

    belum sempat baca ah πŸ™‚

  6. anotherorion says:

    bimosaurus said: Mantab ulasane Gan.. Memang kadang kita tidak bisa menghindari acara 40 hari, 100 hari, mitoni, 1000 hari dan seterusnya, dimana sebenarnya itu adalah budaya hindu dan animisme lama.Hebatnya para wali song dalam membuat dakwah dengan cara moderat memang kita akui, beliau beliau memasukkan Surah Yasin, dan berbagai bacaan di dalam acara animisme itu sehingga berubah menjadi doa Islami. Sayang sekali, tatkala mereka ingin mulai membersihkan budaya , mereka meninggal. Dan pergerakannya pun mati..Mengenai budaya, saya juga pernah menuliskan kebingungan saya, ada juga satu teman MP yang juga menuliskan tentang budaya yang bertentangan dengan norma agama, seperti budaya mabuk, adu ayam dan lain sebagainya.. Artinya, kita punya sudut pandang yang berbeda.. Mari belajar bersama.. Matur nuwun tulisan ini

    maturnuwun mas dab, memang kalau kita bisa bilang dunia keislaman di negeri ini masih belum menemukan bentuk idealnya, karena masih bercampur dengan tradisi yang mengakar kuat, masalahnya untuk menghilangkan unsur2 yang bertentangan dengan agama dalam perayaan tradisi cukup sulit karena ini berkaitan langsung dengan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat sekitar, aku salut sama orang2 yang membuat event FKN maupun SBC di solo karena secara tidak langsung mereka membuat event kebudayaan baru yang tidak mengandung unsur sinkretisme. Semoga dengan adanya inovasi2 pekan kebudayaan baru semacam ini lebih bisa menarik minat masyarakat yang masih mempertahankan unsur mistis dalam perayaan budaya. Setuju mas dab, karena budaya adalah cermin peradaban kelompok tertentu dan pada masa tertentu kita bisa menggunakan yang sekiranya sesuai dengan prinsip kita dan meninggalkan yang kurang sesuai dengan cara berfikir kita

  7. anotherorion says:

    riairwanty said: Siipp nih postingan πŸ™‚

    matur nuwun ria uhuuiylah

  8. anotherorion says:

    ohtrie said: Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. Bicara Islam bukan hanya bicara AlQuran, hanya bicara kenabian, bicara Arab dan Palestina, bicara islam juga berarti berbicara kualitas keislaman lingkungan kita,______Intintya apa yang mo Mas sampekan sedikit banyak bisa saya pahami.Hanya saja…Dari atas saya baca secara runut bahkan berulang kok keknya ada sesuatu yang membuat saya harus men-quote dan mencopy-paste tulisan2 diatas ya Mas….Ada sesuatu yang menurut saya hal itu sangat bertentangan dan tidak menemukan korelasinya….Mohon di check ulang, Matur nuwun…Oh iya Dab,gambare ana sing tak grab nang kene yaaa nuwun…

    kalo yang diquote itu cuma pengantar saja mas trie, karena dari SD yang dipelajari gitu, karena kita hari ini mungkin menganggap islam mudah masuk ke Nusantara karena dibawa pedagang sedangkan nasrani masuk dibawa oleh pastur2 yang merupakan orang2 dari bangsa penjajah. Memang sejarah itu benar mas trie hanya saja kita melupakan budaya orang kita sebenernya mudah menerima orang lain yang tidak bertentangan secara langsung dengan nilai2 kita, dalam penyebaran islam para wali tidak serta merta melarang umat hindu menginjak masjid tapi dituntun alon2 untuk memahami islam dari yang paling mudah, dan menggunakan pengantar kebudayaan semacam wayang dan gamelan, hal itu cukup ampuh menarik minat warga, sedangkan pada penyebaran agama nasrani, stigma yang terbentuk di masyarakat adalah nasrani di bawa oleh penjajah yang menjajah mereka sehingga kurang mendapat simpatiuntuk yang di copas masih banyak diantara kita berdebat antar masing2 umat islam hanya masalah furuu’iyah, padahal masalah furu bukan menjadi harga mati dalam islam, jika kita memang memandang unsur2 kebudayaan harus dipisahkan dalam beribadah maka gunakan cara2 yang cerdik dan simpatik, misal meski kita menentang kenduri karena bukan bagian syiar nabi, ikuti saja jika ada tetangga yang mengundang tapi niatkan sebagai bentuk mengaji bersama masyarakat, nanti jika ada giliran kenduri di tempat kita, gantilah kenduri tersebut dengan bentuk pengajian yang mungkin lebih sesuai dengan yang kita inginkan (mengundang ustadz, tokoh masyarakat, perangkat desa, peneliti yang bisa mengkaitkan ilmu pengetahuan modernterapan dengan ayat2 AlQuran) Beberapa orang menganggap kenduri bid’ah lalu menolak undangan tetangganya untuk berkenduri dengan berbagai macam alasan, padahal ini bukan cara yang simpatik untuk menunjukkan pada warga ini lah Islam yang di bawa nabi, nabi ndak pernah mengadakan kenduri, tiap kelompok masyarakat punya ide berbeda terhadap suatu ibadah maka merubahnya harus dengan dirangkul bukan ditentang, semakin kita menentang nilai yang berlaku dimasyarakat kita juga semakin dijauhi oleh masyarakat itu sendiri

  9. anotherorion says:

    katerinas said: Ulasan yang menarik. bagus!Tfs Rio

    makasih dah mampir mbak rien

  10. anotherorion says:

    vira80 said: belum sempat baca ah πŸ™‚

    rapopo kok, tak tompo senyummu malam ini kok ya hihihi

  11. ohtrie says:

    anotherorion said: semakin kita menentang nilai yang berlaku dim

    Sip Mas ulasan yang menarik,.Yang pingin saya garis bawahi dari comment saya sebelumnya adalah tentang pernyataan pada artikel Mas menyangkut “Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. “Kok keknya ini Mas langgar sendiri dengan membeberkan satu pernyataan lain yang bisa jadi menimbulkan polemik terutama bagi umat lain (Nasrani) itu sendiri, pernyataan itu adalah ” berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa baratMungkin akan benar adanya mengingat kenyataan sejarah yang telah dipelajari, namun mungkin juga ada hal sebagai langkah bijak yang bisa mencerminkan kita berlaku sebagai pembawa kedamaian bukan saja pada kalangan/umat kita sendiri namun juga bagi alam semesta. Rohmatan Lil ‘Alamin…Mengenai budaya dan agama, sebenarnya agak berat tuk saya mengungkapkannya. Saya sebagai Umat Islam akan berusaha menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA sebagaimana telah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Namun saya yang juga sebagai manusia yang tanpa meminta untuk dilahirkan di Tanah Jawa sudah selayaknya apabila saya pun tak akan meninggalkan budaya baik warisan leluhur itu. So saya adalah Orang Islam Jawa.Saya tak harus terlalu mencontoh budaya yang ke Arab-Araban, tapi bukan berarti saya anti budaya Arab lhooo…. Yang baik tentu akan saya jadikan teladan sebagai bahan pelajaran pada kehidupan saya ini.Sedikit mo cerita kisah nyata yang saya alami Mas…Puji Tuhan syukur Alkhamdulillah Sedari kecil saya di didik dengan baik oleh orang tua untuk selalu taat dalam beragama, salah satu nya adalah ngaji. (Jadi kalo saya bandel di dewasanya itu bukan termasuk didikan orang tua, hihii…. bener-bener termasuk keblingeran yang saya buat dan lakukan sendiri)Dari didikan semenjak dini itu, akhirnya sampai lulus sekolah saya acapkali berasumsi bahwa orang Arab dan budayanya itu adalah penganut paham budaya alim, taat beragama dan takut segala laranganNYA.Namun pola pikir saya itu bener-bener berubah setelah dewasa saya kerja di tempat yang hampir 90% bersentuhan dengan orang-orang berkewarganegaraan Timur Tengah (baca:Arab). Sering banget saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka melakukan pesta2 yang tak berguna, dengan berpakaian putih2 bersurban dan berjenggot, juga berkalung tasbih tangan kiri menggandeng cewek (yang saya tahu bukan isrinya) sementara tangan kanan memegang botol Red Label (minuman beralkohol).Ini barulah sedikit cerita tentang orang ber Ras Arab entah itu budaya mereka yang sesungguhnya atau bukan, namun yang musti kita pikirkan dari melihat kenyataan yang ada adalah mengedepankan sikap bijak kita. Maaf ini sama sekali tiada maksud menyudutkan satu golongan, hanyalah pemaparan seperti yang bener2 pernah saya lihat. Karena toh kenyataannya saya sendiri juga satu keyakinan dengan mereka, keyakinan Iman Islam.Menyangkut semuanya, Mungkkin tak akan ada habisnya apabila kita membahas hal ini, hanya saja Kalau boleh dibilang tak semua harus kita cari jawabannya secara verbal, karena pada tataran tertentu (hakekat atau makrifat misalnya) tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, “thus anything cannot be told must be kept silent…” Maaf panjang ya masss, Makasihhh….

  12. anotherorion says:

    ohtrie said: Sip Mas ulasan yang menarik,.Yang pingin saya garis bawahi dari comment saya sebelumnya adalah tentang pernyataan pada artikel Mas menyangkut “Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. “Kok keknya ini Mas langgar sendiri dengan membeberkan satu pernyataan lain yang bisa jadi menimbulkan polemik terutama bagi umat lain (Nasrani) itu sendiri, pernyataan itu adalah ” berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa baratMungkin akan benar adanya mengingat kenyataan sejarah yang telah dipelajari, namun mungkin juga ada hal sebagai langkah bijak yang bisa mencerminkan kita berlaku sebagai pembawa kedamaian bukan saja pada kalangan/umat kita sendiri namun juga bagi alam semesta. Rohmatan Lil ‘Alamin…Mengenai budaya dan agama, sebenarnya agak berat tuk saya mengungkapkannya.Saya sebagai Umat Islam akan berusaha menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA sebagaimana telah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Namun saya yang juga sebagai manusia yang tanpa meminta untuk dilahirkan di Tanah Jawa sudah selayaknya apabila saya pun tak akan meninggalkan budaya baik warisan leluhur itu. So saya adalah Orang Islam Jawa.Saya tak harus terlalu mencontoh budaya yang ke Arab-Araban, tapi bukan berarti saya anti budaya Arab lhooo…. Yang baik tentu akan saya jadikan teladan sebagai bahan pelajaran pada kehidupan saya ini.Sedikit mo cerita kisah nyata yang saya alami Mas…Puji Tuhan syukur Alkhamdulillah Sedari kecil saya di didik dengan baik oleh orang tua untuk selalu taat dalam beragama, salah satu nya adalah ngaji. (Jadi kalo saya bandel di dewasanya itu bukan termasuk didikan orang tua, hihii…. bener-bener termasuk keblingeran yang saya buat dan lakukan sendiri)Dari didikan semenjak dini itu, akhirnya sampai lulus sekolah saya acapkali berasumsi bahwa orang Arab dan budayanya itu adalah penganut paham budaya alim, taat beragama dan takut segala laranganNYA.Namun pola pikir saya itu bener-bener berubah setelah dewasa saya kerja di tempat yang hampir 90% bersentuhan dengan orang-orang berkewarganegaraan Timur Tengah (baca:Arab). Sering banget saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka melakukan pesta2 yang tak berguna, dengan berpakaian putih2 bersurban dan berjenggot, juga berkalung tasbih tangan kiri menggandeng cewek (yang saya tahu bukan isrinya) sementara tangan kanan memegang botol Red Label (minuman beralkohol).Ini barulah sedikit cerita tentang orang ber Ras Arab entah itu budaya mereka yang sesungguhnya atau bukan, namun yang musti kita pikirkan dari melihat kenyataan yang ada adalah mengedepankan sikap bijak kita. Maaf ini sama sekali tiada maksud menyudutkan satu golongan, hanyalah pemaparan seperti yang bener2 pernah saya lihat. Karena toh kenyataannya saya sendiri juga satu keyakinan dengan mereka, keyakinan Iman Islam.Menyangkut semuanya, Mungkkin tak akan ada habisnya apabila kita membahas hal ini, hanya saja Kalau boleh dibilang tak semua harus kita cari jawabannya secara verbal, karena pada tataran tertentu (hakekat atau makrifat misalnya) tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, “thus anything cannot be told must be kept silent…”Maaf panjang ya masss, Makasihhh….

    matur nuwun mas buat replynya, qoute tersebut saya sertakan sebagai pengantar dari deskripsi yang ada dari pelajaran SD, tentang bagaimana penyebaran islam dan kristen, karena itu saya mencoba memperlihatkan pada waktu islamisasi sebetulnya bukan hanya karena faktor penjajah – non penjajah melainkan adanya asimilasi dan tahap2 penyampaian pada waktu islamisasi yang saya sertakan dalam paragraf2 berikutnya. setidaknya faktor stigma terhadap penjajah eropa memang ada pada proses penyebaran nasrani di Indonesia.manusia memiliki nilai2 untuk membandingkan sebuah perbuatan termasuk kategori hitam dan putih, mana yang bisa diterima dan tidak bisa diterima oleh prinsipnya, budaya pada dasarnya kebiasaan kelompok yang dilakukan dalam daerah tertentu, tentu seperti mas thrie sebutkan budaya baik warisan leluhur sepatutnya dijaga bersama tapi kita juga harus bisa memisahkan mana budaya warisan yang memang sesuai dengan prinsip kita, misalnya saya sendiri kurang bisa menerima adanya penggunaan sesaji dalam perayaan2 adat istiadat, kalau boleh berharap maka saya berharap tradisi tersebut dilakukan tanpa menggunakan sesaji cukup peserta berdoa dengan keyakinan masing2. Tapi budaya unggah ungguh, nilai2 susila dan produk budaya semacam wayang kulit masih bisa saya terima selama tidak melibatkan unsur2 mistik ( setidaknya dalam islam tidak mengandung unsur syirik )Budaya Arab dan islam sebenarnya berbeda mas, hanya saja kebanyakan orang kita mengasumsikan budaya arab adalah budaya islam, misal penggunaan cadar sebenarnya adalah bagian budaya arab bukan Islam, tari perut di mesir tentu bukan bagian dari Islam melainan budaya arab, sistem keuangan dinar dirham adalah kebudayaan arab yang diadopsi pada masa kejayaan islam, seperti orang islam di indonesia yang punya cara sendiri untuk merayakan perayaan idul fitri (lebaran, mudik, makan ketupat) tentu orang arab pun punya tradisi sendiri, tinggal bagaimana kita memilih mana kebudayaan kita yang sesuai untuk kita terapkan mana yang tidak, pada akhirnya tidak ada pemaksaan suatu generasi harus menjalankan tradisi generasi sebelumnya tapi bagaimana sebuah generasi melanjutkan tradisi positif generasi sebelumnya dan mengganti tradisi negatif generasi sebelumnya menjadi tradisi positif baru.untuk tradisi, kebiasaan dan budaya masyarakat selama tidak bertentangan dengan aqidah saya, saya tidak perlu menolaknya. kira2 begitu mas nyuwun ngapunten seandainya berbeda ide dengan mas thrie

  13. ohtrie says:

    anotherorion said: Budaya Arab dan islam sebenarnya berbeda mas, hanya saja kebanyakan orang kita mengasumsikan budaya arab adalah budaya islam, misal penggunaan cadar sebenarnya adalah bagian budaya arab bukan Islam, tari perut di mesir tentu bukan bagian dari Islam melainan budaya arab, sistem keuangan dinar dirham adalah kebudayaan arab yang diadopsi pada masa kejayaan islam, seperti orang islam di indonesia yang punya cara sendiri untuk merayakan perayaan idul fitri (lebaran, mudik, makan ketupat) tentu orang arab pun punya tradisi sendiri, tinggal bagaimana kita memilih mana kebudayaan kita yang sesuai untuk kita terapkan mana yang tidak, pada akhirnya tidak ada pemaksaan suatu generasi harus menjalankan tradisi generasi sebelumnya tapi bagaimana sebuah generasi melanjutkan tradisi positif generasi sebelumnya dan mengganti tradisi negatif generasi sebelumnya menjadi tradisi positif baru.untuk tradisi, kebiasaan dan budaya masyarakat selama tidak bertentangan dengan aqidah saya, saya tidak perlu menolaknya. kira2 begitu mas nyuwun ngapunten seandainya berbeda ide dengan mas thrie

    Sip Mas Priyo,Tak ada yang musti dimaafkan sih saya kira, wong koridor kita ini khan dalam rangka ‘berdiskusi’ bukan “berdebat (kusir)”.So perbedaan pendapat itu khan manusiawi, disinilah justru diletakkannya kita manusia ini sebagai makhluk tertinggi derajatnya, karena memang pada dasarnya kita harus pandai dalam berpikir,termasuk bisa mengolah dan menerima arti sebuah perbedaan.Menanggapi pernyataan tentang “tinggal bagaimana kita memilih mana kebudayaan kita yang sesuai untuk kita terapkan mana yang tidak’ saya rasa ini sifatnya agak personal Mas, karena apa yang SESUAI dengan saya belum tentu sesuai dengan sampean taaa..? Nggak ada aturan baku yang menasbihkan mana yang sesuai dan mana yang tidak, hati nurani berbicara disana. Balik lagi bukankah Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati…(Af Faathir 38)Mungkin yang harus saya jadikan pandangan adalah sebuah petuah sesepuh mengenai “desa mawa cara, negara mawa tata”, ikhwal pemakluman atas perbedaan itu indah dengan tanpa mengeluarkan sebuah statement bahwa orang yang lain pendapat adalah “kafir” semoga dapat kita wujudkan dari sana.Sip makasih Mas Priyo…

  14. anotherorion says:

    ohtrie said: Sip Mas Priyo,Tak ada yang musti dimaafkan sih saya kira, wong koridor kita ini khan dalam rangka ‘berdiskusi’ bukan “berdebat (kusir)”.So perbedaan pendapat itu khan manusiawi, disinilah justru diletakkannya kita manusia ini sebagai makhluk tertinggi derajatnya, karena memang pada dasarnya kita harus pandai dalam berpikir,termasuk bisa mengolah dan menerima arti sebuah perbedaan.Menanggapi pernyataan tentang “tinggal bagaimana kita memilih mana kebudayaan kita yang sesuai untuk kita terapkan mana yang tidak’

    njeh mas yang itu sesuai penilaian dan prinsip masing2 orang, malah aku seneng mas thrie gabung jadi bisa dapet sudut pandang lain tentang topik ini. matur nuwun mas Thrie

  15. dhekawe says:

    sing penting shalat..lik..nek shalate apik, nawaitu… liyane apik.

  16. rawins says:

    Melaksanakan ritual keagamaan dan tradisi tidak bisa disalahkan karena semuanya bila kita mau melihat isi yang sebenarnya, ternyata baik dan mulia. Yang penting adalah kita tahu mana yang agama dan mana yang tradisi walau dilakukan secara bersamaan.Mudik lebaran bagus dari sisi silaturahmi. Cuma sayangnya, sebagian dari kita lebih meributkan sisi mudiknya sampai lupa akan puasanya, hanya dengan dalih musafir itu boleh meninggalkan puasa Itu kan sama saja mencari pembenaran atas nama agama hanya untuk melakukan tradisi….

  17. anotherorion says:

    dhekawe said: sing penting shalat..lik..nek shalate apik, nawaitu… liyane apik.

    amin lik, syukur solate apik liane melu apik

  18. anotherorion says:

    rawins said: Melaksanakan ritual keagamaan dan tradisi tidak bisa disalahkan karena semuanya bila kita mau melihat isi yang sebenarnya, ternyata baik dan mulia. Yang penting adalah kita tahu mana yang agama dan mana yang tradisi walau dilakukan secara bersamaan.Mudik lebaran bagus dari sisi silaturahmi. Cuma sayangnya, sebagian dari kita lebih meributkan sisi mudiknya sampai lupa akan puasanya, hanya dengan dalih musafir itu boleh meninggalkan puasa Itu kan sama saja mencari pembenaran atas nama agama hanya untuk melakukan tradisi….

    sing penting nawaitu ne ya kang, syukur loro2ne isa dijalanna nek nyong mudik alhamdulillah urung tau medot kang.

  19. rawins says:

    Lah nek medot ya kebangeten. Seklentaban be tekan….Hahaha…

  20. anotherorion says:

    rawins said: Lah nek medot ya kebangeten. Seklentaban be tekan….Hahaha…

    hehehe lha guwe mung pedek be ndadak medhot hehehe

  21. rengganiez says:

    sudah membaca hingga ke komen-komennya…sippp πŸ™‚

  22. anotherorion says:

    ok mbak niez maturnuwun dah mampir

  23. thetrueideas says:

    panjang beuddd πŸ™‚

  24. anotherorion says:

    hehehe heeh mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: