Bukan Negeri Sampah

Sampah adalah masalah yang tidak pernah selesai di semua negara di dunia, modernisasi kehidupan rupanya berimbas pada sikap ketidakramahan kita terhadap lingkungan, klo jaman raja2 dulu, sampahnya cuma daun daunan, sisa buah2an paling banter guci2 tanah liat sedangkan sekarang plastik, metal, stereofoam semakin merusak dan menyesakkan kondisi tanah.Belum ditambah rongsokan dari mesin elektronik maupun rongsokan mesin motor dari jaman baheula. Tapi uniknya sampah selalu identik dengan negara berkembang, entahlah mungkin karena kita belum mampu melakukan treatment terhadap sampah2 kita atau memang karena negara maju ikut ngekspor sampah ke negara ini. Jadi disana ketok bersih disini ketok kumuh

Berapa banyak barang elektronik/motor import yang berakhir sebagai sampah di negara ini? berapa banyak benda yang menjadi komoditas ekspor negara maju dipromosikan, dijual, dipakai dan akhirnya menjadi beban sampah di negara berkembang??? Ingat loh peniti aja kita masih ngimpor dari Cina kok!!!

SIkap asal bar ber yang jadi kebiasaan kita membuang sampah adalah faktor utama penyebab alam menjadi semakin tidak ramah kepada kita, terutama banjir yang ngga pernah lagi liat tempat, ntah tu dikuburan, perempatan sampe perumahan elite.

Sebetulnya lokalisasi TPA sampah dapat menjadi alternatif pengurangan dampak ketidaknyamanan kota dengan menghibahkan sampah mereka kepada daerah2, namun tentu saja hal ini sama saja ibarat memindahkan bangkai dari satu tempat ke tempat lain bukan menguburnya. Ketika nanti lokasi TPA sudah tidak cukup menampung kuota sampah tentu akan mencari tempat lain lagi untuk dijadikan TPA berikutnya.Padahal tanah yang telah digunakan sebagai TPA akan sulit memperoleh kesuburannya lagi, karena selain kandungan zat2 berbahaya yang mungkin terendap sekian lama juga karena banyaknya sampah yang tidak mampu diuraikan oleh tanah. Klo sudah begini siap siaplah kita meninggalkan ungkapan “gemah ripah loh jinawi”

Memang pada akhirnya sampah tersebut menjadi mata pencaharian pemulung2 yang mengais sisa rezeki dari barang2 tersebut namun nilai ekonomi keuntungan tersebut tidak sebanding dengan nilai kerusakan yang ditimbulkan sampah baik untuk kesehatan alam maupun manusianya. Toh pemulung cuma akan mengambil sampah yang sekiranya masih bisa mereka jual, masih bisa mereka pikul dan itu hanya sebagian kecil dari berton ton sampah yang dibuang setiap harinya

Pemberdayaan sampah melalui program Reuse Reduce Recyce menurutku merupakan program jempolan yang dilakukan baik secara individu maupun kolektif untuk memberdayakan dan mengubah suatu produk menjadi renewable, dan berbasis kreatifitas, meskipun diakui mereka terlihat seolah berjalan sendiri sendiri. Kita tidak mungkin berharap terlalu banyak pada kemampuan mereka mengolah sampah menjadi barang2 yang nyeni, karena kemampuan merekapun terbatas baik dari segi jenis sampah yang bisa diolah, kemampuan produksi, fasilitas permodalan dan promosi.

Sayang pemerintah belum melihat ini sebagai sebuah peluang untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus pengurangan sampah yang lebih terpadu, seharusnya pemerintah mau melihat persoalan sampah ini bukan hanya dimana kita akan membuangnya??dan sampahnya mau kita apakan klo dah ga bisa diapa2in???

Jika kita menarik ke hulu, negara dengan penduduk lebih dari 200juta jiwa adalah pasar yang sangat potensial untuk berbagai produk teknologi dari negara lain, penetrasi kendaraan bermotor dan barang2 elektronik yang masuk ke pasar Indonesia tentu bukan hal yang kecil, para vendor dari luar negeri dapat secara mudah menjual barang2 mereka kepada masyarakat lokal namun mereka tidak ambil pusing dengan masa depan produk mereka jika sudah memasuki masa kepunahan.

Pemerintah kita bisa saja menerapkan sistem kontrak yang mengharuskan para produsen alat2 elektronik dan motor tersebut memberdayakan produk2 usang mereka yang masih tertinggal di masyarakat

Pilihan pertama bisa saja seekstrim penarikan pecahan mata uang lama dan menggantinya dengan pecahan mata uang baru, tidak harus mengganti produk lama dengan baru dengan sistem tukar 1:1 tapi bisa juga dilakukan dengan nilai tawar yang jauh lebih rendah. Mereka bisa mengolah sendiri produk usang mereka sampai benar2 hancur dan tidak berbahaya lagi bagi lingkungan/menjual kembali ke negara lain sampah2 itu hehehehe. Prinsipnya mereka harus mau bertanggung jawab terhadap produk mereka bukan hanya dalam masa garansi tapi juga tanggung jawab terhadap masalah ekologi yang mungkin timbul akibat pencemaran produk2 mereka

Pilihan kedua mereka menyediakan fasilitas reuse, reduce recycling terhadap produk2 usang mereka biar ngga jadi sampah tidak terpakai, bisa saja mereka mendirikan pabrik mesin giling padi yang dibuat dari produk mesin motor usang. Atau mereka diharuskan melakukan partnership dan fasilitasi terhadap lembaga2 masyarakat atau individu yang melakukan pembuatan,pengolahan,pengembangan produk berbasis reuse reduce dan recycle

Nah klo sudah begitu kan asik, seger bener klo sampah jadi tanggungan warga dan pemerintah aja, sementara bakul2 itu ga ikutan mikirin negara kita jadi negeri sampah??? lebih enak kalo sampah ga cuma jadi masalah kita bersama bangsa Indonesia tapi masalah kita semua yang hidup dari tanah air Indonesia, tapi kira2 kapan yah????nunggu aku jadi presiden aja x yah?????wakakakakakakakak

Comments
25 Responses to “Bukan Negeri Sampah”
  1. renypayus says:

    Peniti masih Eksport ToT

  2. anotherorion says:

    renypayus said: Peniti masih Eksport ToT

    Import ren, wah jo kewalik no hehehehe

  3. mulai dari diri sendiri aja dulu hehe…

  4. anotherorion says:

    srisariningdiyah said: mulai dari diri sendiri aja dulu hehe…

    setuju mbak ari

  5. renypayus says:

    eh iya lali, import. rung turu aku ToT

  6. anotherorion says:

    renypayus said: eh iya lali, import. rung turu aku ToT

    ak yo gek tangi jam 1 mau trus kabur neng net, saiki laper arep bali ning tak golek maem sik ah

  7. brotherihda says:

    dari kecil ajah dulu deh..hehe..

  8. nawhi says:

    Aku ga bisa bayangin betapa pusingnya pemerintah dengan masalah sampah ini, emang betul apa yang dikatakan Mbak Ary mulai dari yang kecil, lingkungan keluarga.

  9. rawins says:

    belajarlah ke negeri china…negeri yang kebingungan kemana harus mengekspor sampah. akhirnya sampah dibuat menjadi barang elektronik murahan dan mudah diekspor. Itu sebabnya kenapa radio 5 ribu perak sudah di emper toko. mereka tidak mengambil untung dari situ. tapi dari selisih biaya pengelolaan sampah dengan biaya pengolahan sampah menjadi barang jadi. wajar kalo semingu remuk, wong maksudnya bukan jualan barang eletronik kok. tapi emang buang sampah..

  10. elok46 says:

    nah betul kata mas rawinshahahahhahatermasuk usahaku yang mengolah kertas bekas jadi kertas daur ulang hehehheheheheh semangat

  11. mimie2007 says:

    jangan jangan penitinya buatan cilacap tapi dibuat made in china(rawin,2010)..tapi mulai dari hal kecil kayaknya bisa, ibu ibu kalau belanja bawa plastik sendiri, jadi tidak menambah sampah plastik

  12. anotherorion says:

    brotherihda said: dari kecil ajah dulu deh..hehe..

    bener bro seperti kata aa gym dari diri sendiri dari hal kecil dari sekarang

  13. anotherorion says:

    nawhi said: Aku ga bisa bayangin betapa pusingnya pemerintah dengan masalah sampah ini, emang betul apa yang dikatakan Mbak Ary mulai dari yang kecil, lingkungan keluarga.

    heu heu sip banyak yang setuju sama mbak ari na…sip sip sip

  14. anotherorion says:

    rawins said: belajarlah ke negeri china…negeri yang kebingungan kemana harus mengekspor sampah. akhirnya sampah dibuat menjadi barang elektronik murahan dan mudah diekspor. Itu sebabnya kenapa radio 5 ribu perak sudah di emper toko. mereka tidak mengambil untung dari situ. tapi dari selisih biaya pengelolaan sampah dengan biaya pengolahan sampah menjadi barang jadi. wajar kalo semingu remuk, wong maksudnya bukan jualan barang eletronik kok. tapi emang buang sampah..

    guwe sing tak maksud kang, negara maju ngekspor sampah ke negara berkembang, klo sampahnya laku ya wis sayonara sampah

  15. anotherorion says:

    elok46 said: nah betul kata mas rawinshahahahhahatermasuk usahaku yang mengolah kertas bekas jadi kertas daur ulang hehehheheheheh semangat

    iya elok kayak idemu dulu itu bagus loh lok

  16. anotherorion says:

    mimie2007 said: jangan jangan penitinya buatan cilacap tapi dibuat made in china(rawin,2010)..tapi mulai dari hal kecil kayaknya bisa, ibu ibu kalau belanja bawa plastik sendiri, jadi tidak menambah sampah plastik

    tahun wingi di daerah kampus UNY ada kegiatan kayak gitu yu, intine kerjasama sama penjual makanan disekitar kampus, klo yang beli makanan bawa kotak makan/bungkus sendiri dapet poin, tiap 20 poin bisa ditukerin merce’N’des sayang sekarang dah off mungkin coz mahasiswane wegah repot asah2 alat makane dewe2

  17. rawins says:

    masalahnya negara berkembang masyarakatnya juga bermulut sampah. geleme nyacad tok nek kon temandang bingung…contone inyong..

  18. gerings says:

    bener banget..

  19. Tak dukung jd presiden periode 2012-2020..

  20. anotherorion says:

    rawins said: masalahnya negara berkembang masyarakatnya juga bermulut sampah. geleme nyacad tok nek kon temandang bingung…contone inyong..

    hehehe ora papa kang, jenenge be usaha wkwkwkwkwk

  21. anotherorion says:

    gerings said: bener banget..

    ge mbenerna sing ndi yah??melu lah

  22. anotherorion says:

    hubuthulqolbi said: Tak dukung jd presiden periode 2012-2020..

    SBY dilungsurna ndisit ya Mi rapenak nyong nek dikon turu sekasur bareng SBY lah

  23. kpn yah, pengelolaan sampah kita kyk jepang?tulisan yg bagus, kritis tp juga solutif ^^

  24. anotherorion says:

    aliasyadimayyadah said: kpn yah, pengelolaan sampah kita kyk jepang?tulisan yg bagus, kritis tp juga solutif ^^

    wah jepang pengolahan sampahnya dah secanggih apa yah mbak???hmmm pengen tau

  25. anotherorion said: wah jepang pengolahan sampahnya dah secanggih apa yah mbak???hmmm pengen tau

    tempat sampahnya sj ada 3 jenis. bwt basah, kering, dan yg gak bs didaur ulangtrus, ada jam terjadwal bwt yg mau buang sampah dan yg mau nagngkut sampah. selengkapnya cari di google hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: